Fondasi BUMN Kokoh Hadapi Resesi Ekonomi


Fondasi BUMN Kokoh  Hadapi Resesi Ekonomi

jaringberita.com -Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diyakini mampu bertahan dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi tahun depan. Sebab, fondasi perusahaan pelat merah ini sudah semakin kuat pasca melakukan transformasi dan menjalani core value AKHLAK.

Associate Director BUMN Research Group LM-FEUI (Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) Toto Pranoto mengatakan, perbaikan kinerja BUMN merupakan buah dari transformasi yang dijalankan sejak 2019.

Seperti diketahui, beberapa langkah transformasi telah dilakukan. Termasuk percepatan pembentukan beberapa holding company baru di BUMN, langkah merger BUMN, serta upaya likuidasi beberapa BUMN.

Toto meyakini, langkah ini dilengkapi dengan penguatan sistem terkait pengelolaan manajemen risiko dan upaya konsolidasi laporan keuangan seluruh BUMN.

“Hal ini dimaksudkan sebagai penguatan daya saing dan penguatan proses monitoring kinerja BUMN,” jelasnya.

Disebutkan Toto, Menteri BUMN Erick Thohir menunjukkan data pertumbuhan kinerja BUMN sepanjang 2021 yang makin baik dibandingkan kondisi 2020. Pendapatan BUMN pada 2021 naik 18,8 persen dari tahun 2020 menjadi Rp 2.295 triliun atau sekitar 160 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Tak hanya itu, keuntungan konsolidasi BUMN melonjak 838 persen dari Rp 13 triliun (892 juta dolar AS) pada 2020 menjadi Rp 124,7 triliun (9 miliar dolar AS) pada 2021.

Total aset BUMN juga meningkat menjadi Rp 8.978 triliun (630 miliar dolar AS) pada akhir 2021, atau setara 53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Meskipun sudah terdapat perbaikan kinerja BUMN, perlu dicatat bahwa beberapa masalah lainnya masih muncul. Dan memerlukan penanganan lebih baik,” katanya.

Salah satunya terkait makin menumpuknya utang BUMN. Sehingga, menurut Toto, permasalahan tersebut harus segera dicarikan jalan keluarnya. Sebagai informasi, utang konsolidasi BUMN pada 2021 telah mencapai Rp 1.500 triliun.

Beberapa perusahaan pelat merah dengan utang besar itu antara lain PLN (Rp 643 triliun), Pertamina (Rp 237 triliun), Garuda (Rp 184 triliun), BUMN Karya (WSKT/ADHI/WIKA total Rp 170 triliun), PTPN (Rp 43 triliun), serta Angkasa Pura I (Rp 35 triliun).

Permasalahan utang ini tidak terlepas dari dampak Covid-19. Serta beberapa proyek penugasan Pemerintah kepada BUMN yang membutuhkan biaya besar.

Hal lain yang patut diwaspadai, sambung Toto, adalah kondisi resesi ekonomi global yang sudah terjadi. Hal ini berpotensi memberikan dampak negatif pada korporasi termasuk BUMN.

Kondisi resesi ini terjadi sebagai dampak melemahnya ekonomi di Amerika Serikat, China, dan Eropa yang menyebabkan menurunnya sisi demand dan kenaikan inflasi, serta melemahnya nilai tukar rupiah.

Menurutnya, harga komoditas yang meroket di dua tahun terakhir bisa terdampak akibat mulai melemahnya permintaan di tahun depan. Demikian pula perusahaan negara yang mengandalkan impor bahan baku dan penjualan dominannya berada di wilayah domestik, akan terancam dengan fluktuasi nilai tukar. Maka upaya meminimalisir risiko misalnya dengan proses hedging (lindung nilai) sangat penting dilakukan.

Namun, dia melihat Pemerintah masih optimistis, Indonesia akan masuk sebagian kecil negara yang tetap bisa tumbuh di tengah kemuraman ekonomi dunia ke depan. Pertumbuhan ekonomi masih bisa dicapai pada kisaran 5 persen di 2023.

“Kesempatan ini sepatutnya bisa dimanfaatkan BUMN untuk terus berbenah dan meningkatkan daya saing supaya mampu bersaing di pasar global,” imbau Toto.

BUMN juga dinilai memberi kontribusi positif atas perkembangan pasar modal di Indonesia. Para analis dan pakar pasar modal memberikan penghargaan pada Kementerian BUMN dalam Certified Securities Analyst (CSA) Awards 2022.

Menteri BUMN Erick Thohir berterima kasih atas apresiasi yang diberikan pelaku dan analis pasar modal atas kinerja BUMN selama ini. Ia bersyukur kinerja positif BUMN terjadi di pasar modal.

Seperti diketahui, tiga dari lima emiten terbesar nasional di pasar modal adalah BUMN, yakni BRI, Telkom Indonesia, dan Mandiri. Total terdapat 36 BUMN dan Entitas BUMN dalam Pasar Modal Indonesia.

BUMN menyumbang 23 persen dari bursa. Artinya, kinerja BUMN dengan transformasi yang sudah didorong, baik itu lewat perbaikan dari manajemen atau adaptasi business model, telah menjadi kekuatan,” ucap Erick dalam keterangan resmi yang dikutip dari RM.id.

Menurut Erick, kinerja baik dari BUMN yang mampu berkontribusi secara signifikan terhadap pasar tak terlepas transformasi BUMN.


Tag: