Disebutkan Toto, Menteri BUMN Erick Thohir menunjukkan data pertumbuhan kinerja BUMN sepanjang 2021 yang makin baik dibandingkan kondisi 2020. Pendapatan BUMN pada 2021 naik 18,8 persen dari tahun 2020 menjadi Rp 2.295 triliun atau sekitar 160 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Tak hanya itu, keuntungan konsolidasi BUMN melonjak 838 persen dari Rp 13 triliun (892 juta dolar AS) pada 2020 menjadi Rp 124,7 triliun (9 miliar dolar AS) pada 2021.
Total aset BUMN juga meningkat menjadi Rp 8.978 triliun (630 miliar dolar AS) pada akhir 2021, atau setara 53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Meskipun sudah terdapat perbaikan kinerja BUMN, perlu dicatat bahwa beberapa masalah lainnya masih muncul. Dan memerlukan penanganan lebih baik,” katanya.
Salah satunya terkait makin menumpuknya utang BUMN. Sehingga, menurut Toto, permasalahan tersebut harus segera dicarikan jalan keluarnya. Sebagai informasi, utang konsolidasi BUMN pada 2021 telah mencapai Rp 1.500 triliun.
Beberapa perusahaan pelat merah dengan utang besar itu antara lain PLN (Rp 643 triliun), Pertamina (Rp 237 triliun), Garuda (Rp 184 triliun), BUMN Karya (WSKT/ADHI/WIKA total Rp 170 triliun), PTPN (Rp 43 triliun), serta Angkasa Pura I (Rp 35 triliun).
Permasalahan utang ini tidak terlepas dari dampak Covid-19. Serta beberapa proyek penugasan Pemerintah kepada BUMN yang membutuhkan biaya besar.