Hal lain yang patut diwaspadai, sambung Toto, adalah kondisi resesi ekonomi global yang sudah terjadi. Hal ini berpotensi memberikan dampak negatif pada korporasi termasuk BUMN.
Kondisi resesi ini terjadi sebagai dampak melemahnya ekonomi di Amerika Serikat, China, dan Eropa yang menyebabkan menurunnya sisi demand dan kenaikan inflasi, serta melemahnya nilai tukar rupiah.
Menurutnya, harga komoditas yang meroket di dua tahun terakhir bisa terdampak akibat mulai melemahnya permintaan di tahun depan. Demikian pula perusahaan negara yang mengandalkan impor bahan baku dan penjualan dominannya berada di wilayah domestik, akan terancam dengan fluktuasi nilai tukar. Maka upaya meminimalisir risiko misalnya dengan proses hedging (lindung nilai) sangat penting dilakukan.
Namun, dia melihat Pemerintah masih optimistis, Indonesia akan masuk sebagian kecil negara yang tetap bisa tumbuh di tengah kemuraman ekonomi dunia ke depan. Pertumbuhan ekonomi masih bisa dicapai pada kisaran 5 persen di 2023.
“Kesempatan ini sepatutnya bisa dimanfaatkan BUMN untuk terus berbenah dan meningkatkan daya saing supaya mampu bersaing di pasar global,” imbau Toto.
BUMN juga dinilai memberi kontribusi positif atas perkembangan pasar modal di Indonesia. Para analis dan pakar pasar modal memberikan penghargaan pada Kementerian BUMN dalam Certified Securities Analyst (CSA) Awards 2022.