jaringberita.com -Investor menyambut positif rencana PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum Operating melantai di bursa saham. Sebab, bisnis aluminium dinilai memiliki prospek bagus.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan memisahkan operasional bisnis (split off) Inalum Operating dengan Holding Pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID).
Meski belum bisa dipastikan kapan rencana tersebut akan dilakukan, namun Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury meyakinkan, aksi korporasi tersebut harus dilakukan demi memperkuat MIND ID sebagai holding pertambangan.
“Split off ini lebih kepada MIND ID selaku holding yang membawahi Inalum. Nah, nanti Inalum akan melaksanakan kegiatan operasional sendiri,” jelasnya.
Mantan bos Garuda ini menjelaskan, saat ini MIND ID bersama Inalum masih menjadi satu institusi. Selanjutnya yang akan dilakukan, pembentukan holding baru. Nanti holding akan fokus pada pengelolaan keseluruhan kegiatan operasional sub-holding.
“Jadi, yang menjadi holding itu nanti naik ke atas, kemudian kegiatan operasionalnya ada di Inalum,” terang Pahala.
Menurut mantan bos Bank BTN ini, akan lebih mudah jika memisahkan holding di atas itu menjadi perusahaan yang baru. Sehingga operasional tetap berada di perusahaan yang lama. Kemudian holding baru nanti akan lebih mudah dibangun dan dibesarkan.
Lebih lanjut, Pahala membeberkan, bahwa tak menutup kemungkinan rencana tersebut berujung pada kegiatan pencatatan saham di pasar modal atau IPO (Initial Public Offering). “Tentu, dengan melihat kondisi pasar saham dan timing yang tepat,” yakin Pahala.
Karena saat ini, menurut Pahala, kondisi pasar belum kondusif. Sehingga masih dipertimbangkan kapan waktu yang pas untuk melakukan IPO untuk Inalum.
Manajemen Inalum mengamini rencana itu. Manajemen mengatakan, aksi korporasi split off ini akan dilakukan melalui upaya reorganisasi. Di mana Inalum nanti akan fokus pada operasional bisnis peleburan aluminium.
Sementara MIND ID lebih kepada kegiatan operasional holding dan lebih kepada brand investor strategy. “Kami masih bagian dari MIND ID, hanya operasional organisasinya yang diubah,” ungkap Tim Manajemen Inalum.
Selanjutnya menyoal IPO, pihak manajemen mengatakan, hal tersebut dalam tahap kajian. Sehingga belum banyak hal yang bisa dipaparkan ke publik. “IPO masuk ke tahap kajian. Tentunya hal itu perlu proses dan dukungan dari berbagai pihak. Saat ini kami masih fokus reorganisasi,” ucapnya.
Sebelum ini, Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan, split off Inalum dari holding MIND ID dipastikan rampung pada Oktober 2022. Setelah izin prakarsa terbit, MIND ID tengah menantikan Peraturan Pemerintah (PP) berkaitan dengan proses split off dua entitas bisnis tambang tersebut.
Dany menjelaskan, pemisahan Inalum Operating dari MIND ID akan mendorong aksi korporasi berkaitan dengan upaya eksplorasi, kemitraan, hingga pendanaan publik lewat skema IPO atau pun strategic partnership.
“Yang jelas split off itu akan menjadikan Inalum fokus untuk membesarkan industri aluminium,” ujar Dany.
Lebih lanjut, ia mengatakan, dengan disetujuinya rencana tersebut, MIND ID nantinya dapat menjadi holding pertambangan yang memiliki 100 persen saham Inalum. Selanjutnya, Inalum akan memisahkan fungsi holding dengan fungsi operasi.
Di satu sisi, MIND ID akan menjadi holding strategis dan menjadi bentuk akhir dari rencana holdingisasi sejak 2017.
Menyoal ini, Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengatakan, meski saat ini pasar banyak tekanan. Namun ada beberapa sektor yang cukup dinantikan para investor terkait masuknya BUMN dan anak usahanya untuk tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan mekanisme IPO.
“Salah satunya calon emiten BUMN yang terkait dengan pembangunan pabrik baterai listrik, adalah MIND ID dan anak usahanya Inalum Operating. Ini cukup dinantikan,” ungkap Reza.
Dengan upaya ada split off Inalum nanti yang membuat perusahaan lebih fokus pada bisnis aluminium, menurut Reza, tentu menjadi daya tarik Inalum untuk investor, mengingat bisnis sektor tersebut sangat menjanjikan.
“Saya rasa aksi korporasi tersebut cukup baik dan tepat bagi pengembangan Inalum sendiri,” kata Reza.
Seperti diketahui, seperti dilansir dari RM.id, saat ini Inalum membawahi tiga emiten tambang mineral dan batubara yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Antam Tbk (ANTM). Inalum juga punya 20 persen saham di PT Vale Indonesia Tbk (INCO).