Sementara MIND ID lebih kepada kegiatan operasional holding dan lebih kepada brand investor strategy. “Kami masih bagian dari MIND ID, hanya operasional organisasinya yang diubah,” ungkap Tim Manajemen Inalum.
Selanjutnya menyoal IPO, pihak manajemen mengatakan, hal tersebut dalam tahap kajian. Sehingga belum banyak hal yang bisa dipaparkan ke publik. “IPO masuk ke tahap kajian. Tentunya hal itu perlu proses dan dukungan dari berbagai pihak. Saat ini kami masih fokus reorganisasi,” ucapnya.
Sebelum ini, Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan, split off Inalum dari holding MIND ID dipastikan rampung pada Oktober 2022. Setelah izin prakarsa terbit, MIND ID tengah menantikan Peraturan Pemerintah (PP) berkaitan dengan proses split off dua entitas bisnis tambang tersebut.
Dany menjelaskan, pemisahan Inalum Operating dari MIND ID akan mendorong aksi korporasi berkaitan dengan upaya eksplorasi, kemitraan, hingga pendanaan publik lewat skema IPO atau pun strategic partnership.
“Yang jelas split off itu akan menjadikan Inalum fokus untuk membesarkan industri aluminium,” ujar Dany.
Lebih lanjut, ia mengatakan, dengan disetujuinya rencana tersebut, MIND ID nantinya dapat menjadi holding pertambangan yang memiliki 100 persen saham Inalum. Selanjutnya, Inalum akan memisahkan fungsi holding dengan fungsi operasi.
Di satu sisi, MIND ID akan menjadi holding strategis dan menjadi bentuk akhir dari rencana holdingisasi sejak 2017.
Menyoal ini, Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengatakan, meski saat ini pasar banyak tekanan. Namun ada beberapa sektor yang cukup dinantikan para investor terkait masuknya BUMN dan anak usahanya untuk tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan mekanisme IPO.
“Salah satunya calon emiten BUMN yang terkait dengan pembangunan pabrik baterai listrik, adalah MIND ID dan anak usahanya Inalum Operating. Ini cukup dinantikan,” ungkap Reza.
Dengan upaya ada split off Inalum nanti yang membuat perusahaan lebih fokus pada bisnis aluminium, menurut Reza, tentu menjadi daya tarik Inalum untuk investor, mengingat bisnis sektor tersebut sangat menjanjikan.
“Saya rasa aksi korporasi tersebut cukup baik dan tepat bagi pengembangan Inalum sendiri,” kata Reza.
Seperti diketahui, seperti dilansir dari RM.id, saat ini Inalum membawahi tiga emiten tambang mineral dan batubara yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Antam Tbk (ANTM). Inalum juga punya 20 persen saham di PT Vale Indonesia Tbk (INCO).