jaringberita.com - CEO Indodax,
Oscar Darmawan membeberkan bahwa penyebab harga kripto mengalami kenaikan dalam beberapa waktu belakangan ini karena permintaan terhadap aset kripto saat ini sedang jauh lebih banyak dibandingkan penawaran.
Namun, lanjut dia, tentu ada pemicu yang menyebabkan permintaan terhadap kripto naik.
"Misalnya saja ketika beberapa waktu lalu Bitcoin menyentuh harga ATH-nya (All-Time High) hampir Rp1 miliar, faktor pemicunya karena banyak masyarakat yang semakin melek terhadap eksistensi Bitcoin dan juga kripto," katanya melansir Antara, Sabtu (1/4/2023).
Oscar menjelaskan, hingga Jumat pukul 12.00 WIB, harga Bitcoin masih berada di kisaran lebih dari Rp423 juta. Kenaikan harga kripto pada hari ini dialami sejumlah kripto, seperti Ripple yang meningkat 3,07 persen atau Avalanche yang naik 4,76 persen.
Reli kenaikan harga kripto dikatakan sudah terjadi sejak awal bulan Maret. Dia mengatakan, tidak salah banyak yang menganggap Maret adalah bulan di mana kripto sedang mengalami reli bullish.
Selain awareness yang menyebabkan masyarakat membeli kripto dan menyebabkan harga aset digital tersebut mengalami bullish, tetapi juga keadaan makro ekonomi global.
Mulai dari keputusan suku bunga Amerika Serikat (The Fed) ataupun kasus keruntuhan perbankan yang dialami sejumlah bank kenamaan dunia akhir-akhir ini.
Beberapa kasus yang menyebabkan permintaan Bitcoin semakin meningkat ialah inflasi mata uang yang pernah terjadi di negara Cyprus, sehingga mendorong penggunaan Bitcoin semakin marak. Adopsi Bitcoin dan pembelian Bitcoin maupun kripto dari investor institusi besar juga sangat mempengaruhi.
"Meskipun reli bullish pada kripto terjadi di kuartal I tahun 2023 ini, penting sekali bagi para trader untuk tidak FOMO (Fear of Missing Out) dan mempelajari terlebih dahulu kiat-kiat trading kripto agar bisa menentukan harga beli dan harga jual yang tepat," jelasnya.
Dengan kenaikan harga kripto, sambungnya, maka membuat investor percaya harga kripto akan terus mengalami reli bullish dan mulai membeli kripto.
“Namun pada kenyataannya, volatilitas kripto sangat cepat mengingat setelah kripto tersebut berada di harga tertentu, harga aset akan terkoreksi, sehingga investor bakal merasa kecewa karena terlanjur membeli pada saat harga tinggi dan perlu menunggu lagi agar harga bisa naik kembali,” jelasnya.
Menurut Oscar, setiap investor perlu mempelajari terlebih dahulu bagaimana teknik trading yang baik sebelum terjun untuk bertransaksi kripto sehingga terhindari dari bull trap.
Selain itu, investor dianggap harus memahami istilah Relative Strength Index (RSI) yang digunakan untuk mengukur pergerakan harga. Istilah RSI dalam kripto merupakan suatu indikator untuk menentukan kondisi pasar di mana kripto sedang terlalu banyak pembelian atau terlalu banyak penjualan.
Dengan mempelajari cara membaca RSI, investor dinilai bakal mengetahui bahwa setelah nilai suatu kripto mengalami kenaikan signifikan, maka bisa disimpulkan kondisi pasar sudah menyentuh kondisi terlalu banyak pembelian.
Investor disebut tidak perlu memantau setiap menit, tetapi tetap perlu memantau tren harga kripto sesekali jika skor RSI sudah mendekati atau melampaui level resistance. Karena itu, investor diminta berhati-hari sebab bisa terjadi bull trap.