OJK Pede Kinerja Jasa Keuangan Tetap Moncer


OJK Pede Kinerja  Jasa Keuangan  Tetap Moncer
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar (kiri) dalam Konferensi Pers RDK

jaringberita.com -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) percaya diri (pede) stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi global. Bahkan, kinerja jasa keuangan di dalam negeri mengalami kenaikan.

Regulator perbankan ini menegaskan, sistem keuangan tetap berkontribusi terhadap berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional. Kendati saat ini terjadi pelemahan ekonomi dunia dan inflasi global yang tinggi, pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Serta peningkatan tensi geopolitik yang berkepanjangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, sebagai respons dari peningkatan tekanan inflasi, Bank Indonesia (BI) dan beberapa Bank Sentral negara utama di dunia, mengerek suku bunga kebijakan (policy rate). Dan berencana mempercepat laju pengetatan kebijakan, meski keputusan tersebut dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ekonomi.

Stance kebijakan moneter ini dilakukan oleh mayoritas Bank Sentral global, termasuk Bank Indonesia, yang menaikkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (repo rate) sebesar 50 bps (basis poin).

Hal ini mendorong kekhawatiran resesi global meningkat. Sehingga lembaga internasional seperti Bank Dunia, ADB (Asian Development Bank), dan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi global.

“Di tengah revisi ke bawah outlook pertumbuhan global, outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dinaikkan di tahun 2022 seiring dengan masih tingginya harga komoditas dan terkendalinya pandemi,” ungkap Mahendra dalam Konferensi Pers RDK (Rapat Dewan Komisioner) Bulanan September 2022 secara virtual, Senin (3/10).

Indikator perekonomian terkini, sebut mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini, mengkonfirmasi berlanjutnya kinerja positif perekonomian Indonesia. Di antaranya, terlihat dari neraca perdagangan yang melanjutkan surplus, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur di zona ekspansi, dan indeks kepercayaan konsumen yang tetap optimis.

“Masih solidnya kinerja perekonomian domestik turut menjaga kinerja IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) relatif lebih baik dibandingkan negara kawasan di tengah koreksi signifikan pasar keuangan global,” sebut mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu.

Tercatat hingga 30 September 2022, IHSG terkoreksi 1,92 persen mtd (month to date) ke level 7.040,80 dengan non-resident mencatatkan inflow sebesar Rp 3.055 triliun.

Secara year to date (ytd), IHSG tercatat menguat sebesar 6,98 persen dengan non-resident membukukan net buy sebesar Rp 69,47 triliun.

Di Pasar SBN (Surat Berharga Negara), non-resident mencatatkan outflow sebesar Rp 18,84 triliun mtd. Sehingga mendorong rata-rata yield SBN naik sebesar 30,10 bps mtd di seluruh tenor. Dan rata-rata yield SBN telah meningkat sebesar 79,73 bps. Dengan non-resident mencatatkan net sell sebesar Rp 150,67 triliun.

Hingga 30 September 2022, penghimpunan dana di pasar modal masih tinggi, yaitu sebesar Rp 175,34 triliun, dengan emiten baru tercatat sebanyak 48 emiten. Di pipeline, masih terdapat 90 rencana Penawaran Umum dengan nilai sebesar Rp 61,31 triliun.

Kinerja IHSG yang stabil juga ditopang oleh kinerja emiten yang meningkat. Dari 722 emiten listing saham yang telah menyampaikan Laporan Keuangan Tengah Tahunan 2022, sejumlah 479 emiten (66,34 persen) menunjukkan, peningkatan kinerja dengan pertumbuhan pendapatan tercatat sebesar 22,97 persen year on year/ yoy. Dan peningkatan laba sebesar 74 persen yoy.

Sementara dari kredit perbankan pada Agustus 2022 tumbuh relatif stabil 10,62 persen yoy. Terutama ditopang oleh kredit modal kerja, yang tumbuh sebesar 12,19 persen yoy. Adapun secara mtm, nominal kredit perbankan naik sebesar Rp 20,13 triliun menjadi Rp 6.179,5 triliun.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Agustus 2022 tercatat sebesar 7,77 persen yoy menjadi Rp 7.608 triliun, laju pertumbuhan melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,59 persen yoy, yang utamanya didorong perlambatan giro.

Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menambahkan, profil risiko perbankan di Agustus 2022 juga masih terjaga. “Dengan rasio Non Performing Loan (NPL) net perbankan sebesar 0,79 persen dengan NPL gross sebesar 2,88 persen,” rinci Dian.

Untuk kredit restrukturisasi Covid-19 kembali mencatatkan penurunan sebesar Rp 16,77 triliun menjadi Rp 543,45 triliun, dengan jumlah nasabah juga menurun menjadi 2,88 juta nasabah.

Ekonomi Tetap Solid

Melihat catatan kinerja tersebut, Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengaku tetap optimistis. Ia bahkan memproyeksi, pertumbuhan kredit tahun ini masih akan sesuai target pertumbuhan kredit BI 9-11 persen.

“Asumsi ini dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tetap solid, dan kondisi likuiditas perbankan yang meski cenderung mengetat tapi masih cukup longgar,” jelasnya dilansir dari RM.id.

Meski begitu, kata Josua, kenaikan suku bunga acuan BI dapat bertransmisi ke suku bunga perbankan, termasuk bunga kredit. Sehingga berpotensi menekan pertumbuhan kredit perbankan. Ditambah, adanya berbagai tantangan lain yang perlu dihadapi sektor perbankan di tahun ini. Salah satunya, sambung Josua, dampak dari kenaikan inflasi berpotensi mendorong perlambatan laju pertumbuhan ekonomi.

“Terutama konsumsi rumah tangga yang juga akan berpengaruh pada kinerja debitur,” sebutnya.

Josua mengutip Survei Perbankan yang dirilis oleh BI, lending standard perbankan masih menunjukkan ekspektasi yang meningkat pada kuartal III-2022. Untuk itu, dalam rangka membatasi peningkatan NPL, perbankan diimbau menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Hal ini sangat diperlukan agar perbankan dapat mendorong pertumbuhan aset dengan kualitas kredit yang terjaga dengan baik. Bank juga perlu mempertimbangkan porsi restrukturisasi kredit akibat Covid-19.

“Sebab, program restrukturisasi ini di beberapa sektor kredit perbankan masih cukup tinggi,” imbaunya.

Secara global, sambung Josua, kenaikan harga komoditas saat ini juga menjadi beban bagi negara lain, justru bisa menjadi berkah bagi Indonesia. Terbukti, penerimaan Pemerintah mengalami kenaikan cukup signifikan selama periode naiknya harga komoditas.


Tag:
ojk