Ekonomi Tetap Solid
Melihat catatan kinerja tersebut, Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengaku tetap optimistis. Ia bahkan memproyeksi, pertumbuhan kredit tahun ini masih akan sesuai target pertumbuhan kredit BI 9-11 persen.
“Asumsi ini dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tetap solid, dan kondisi likuiditas perbankan yang meski cenderung mengetat tapi masih cukup longgar,” jelasnya dilansir dari RM.id.
Meski begitu, kata Josua, kenaikan suku bunga acuan BI dapat bertransmisi ke suku bunga perbankan, termasuk bunga kredit. Sehingga berpotensi menekan pertumbuhan kredit perbankan. Ditambah, adanya berbagai tantangan lain yang perlu dihadapi sektor perbankan di tahun ini. Salah satunya, sambung Josua, dampak dari kenaikan inflasi berpotensi mendorong perlambatan laju pertumbuhan ekonomi.
“Terutama konsumsi rumah tangga yang juga akan berpengaruh pada kinerja debitur,” sebutnya.
Josua mengutip Survei Perbankan yang dirilis oleh BI, lending standard perbankan masih menunjukkan ekspektasi yang meningkat pada kuartal III-2022. Untuk itu, dalam rangka membatasi peningkatan NPL, perbankan diimbau menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Hal ini sangat diperlukan agar perbankan dapat mendorong pertumbuhan aset dengan kualitas kredit yang terjaga dengan baik. Bank juga perlu mempertimbangkan porsi restrukturisasi kredit akibat Covid-19.
“Sebab, program restrukturisasi ini di beberapa sektor kredit perbankan masih cukup tinggi,” imbaunya.
Secara global, sambung Josua, kenaikan harga komoditas saat ini juga menjadi beban bagi negara lain, justru bisa menjadi berkah bagi Indonesia. Terbukti, penerimaan Pemerintah mengalami kenaikan cukup signifikan selama periode naiknya harga komoditas.