Industri Masih Pede Kredit Tetap Tumbuh

Plus Minus Dampak Kenaikan BI Rate

Industri Masih Pede Kredit Tetap Tumbuh
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

jaringberita.com -Bank Indonesia (BI) kembali mengerek suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (repo rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen. Bagaimana dampaknya bagi pertumbuhan kredit dan perekonomian nasional?

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, kenaikan tersebut memiliki dampak positif dan negatif sekaligus pada kredit hingga ekonomi secara nasional.

Sisi positifnya, kata Bhima, kenaikan suku bunga dapat memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah terhadap penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut.

“Sementara, efek negatif akan dirasakan pelaku usaha dan perbankan. Karena kenaikan suku bunga memicu kenaikan suku bunga pinjaman atau kredit,” ujar Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berdasarkan pantauannya, suku bunga pinjaman bank mulai terpantau meningkat. Sehingga pelaku usaha harus mulai mengatur strategi membayar bunga dan cicilan pinjaman modal kerja.

Kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 50 bps itu, melanjutkan kenaikan suku bunga pada Agustus 2022 sebesar 25 bps dan September 2022 sebesar 50 bps. Maka total suku bunga BI sudah naik 125 bps sepanjang tahun ini.

Bhima memprediksi, kenaikan suku bunga yang terus berlanjut akan mengakibatkan penurunan belanja masyarakat. Terutama pada pembelian kendaraan bermotor dan rumah yang akan ikut melambat. Sebab, bunga kredit ikut naik, seiring dengan meningkatnya suku bunga BI.

Menurut Bhima, hal inilah yang menurunkan inflasi inti, karena demand (permintaan) melemah. Namun yang menjadi tugas utama Pemerintah, yakni mengendalikan cost push inflation, atau kenaikan inflasi akibat biaya produksi dan operasional perusahaan yang meningkat.

Seperti naiknya biaya bahan baku, karena harga komoditas meningkat, atau tarif angkutan naik karena harga Bahan Bakar Minyak (BBM) melonjak.

“Pekerjaan Rumah (PR) Pemerintah yakni mengendalikan sisi penawaran lewat intervensi di pangan dan energi. Selama cost push masih terjadi, naiknya bunga acuan tidak serta merta akan menurunkan inflasi umum,” jelas Bhima.

Selain itu, lanjut Bhima, harus diakui pula bahwa tren kenaikan suku bunga acuan seiring dengan pemulihan ekonomi, akan memberikan risiko lain terhadap industri jasa keuangan. Mulai dari pertumbuhan kredit terbatas, hingga kenaikan tingkat kredit macet.

Pada akhirnya akan mengganggu konsumsi masyarakat. Sehingga pengusaha mungkin akan sedikit mengerem pembiayaan.

“Meski ada pertumbuhan, sektor usaha dan perbankan tetap harus waspada. Kita berharap, pertumbuhan kredit masih bisa di kisaran 10 persen ke atas,” ungkap Bhima.

Terpisah, Co-Founder & Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED) Ryan Kiryanto berpendapat, kenaikan repo rate sudah tepat, taktis dan timely. Keputusan tersebut menyiratkan langkah BI yang front loaded, pre-emptive dan forward looking.

Terutama, untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting), berkisar 6 sampai 7 persen pasca kenaikan harga BBM.

Sekaligus memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3 persen plus minus 1 persen (dengan jangkar 3 persen) lebih awal dari perkiraan semula. “Yaitu menjadi ke paruh atau semester pertama tahun 2023,” ujar Ryan.

Tak kalah pentingnya, sambung Ryan, keputusan BI tersebut juga untuk menjaga dan memperkuat upaya menstabilkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Terutama akibat semakin menguatnya mata uang dolar AS terhadap mata uang di seluruh dunia. Ditambah lagi, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini, kenaikan bunga acuan tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan kredit.

Ini terbukti pada September 2022, pertumbuhan kredit masih 11 persen secara tahunan. Begitu juga untuk pertumbuhan pembiayaan oleh perbankan syariah 19,0 persen. Dan kredit UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) 17,13 persen.

“Secara keseluruhan September pertumbuhan kredit 11 persen. Berarti lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 10,66 persen,” ucap Perry, saat konferensi pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara virtual.

Tak hanya itu, sambung Perry, dari sisi penawaran, berlanjutnya perbaikan intermediasi perbankan itu didukung oleh standar penyaluran kredit yang tetap longgar. Hal ini seiring dengan membaiknya hasrat perbankan dalam penyaluran kredit. Terutama di sektor industri, pertanian, perdagangan, maupun konstruksi.

Dengan memperhatikan perkembangan tersebut, BI yakin pertumbuhan kredit pada 2022 masih akan berada pada kisaran 9 sampai 11 persen secara tahunan.

“Hal itu ditopang oleh likuiditas perbankan dan perekonomian yang masih tetap longgar,” kata Perry.

Terpisah, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Royke Tumilaar menyampaikan, BNI sebagai bagian dari transformasi BUMN terus berupaya mendorong pertumbuhan yang sehat dan sustainable.

Untuk bisa survive, seperti dilansir dari RM.id, pihaknya menyasar debitur top tier di segmen industri prospektif. Serta melengkapi dengan kebijakan manajemen risiko yang prudent. Dengan ini, BNI yakin menumbuhkan kredit sebesar 7 sampai 10 persen di tahun 2022.

“Tentunya, transformasi memiliki peran penting,” ucap Royke dalam keterangannya yang dikutip, kemarin.


Tag: