Industri Masih Pede Kredit Tetap Tumbuh

Plus Minus Dampak Kenaikan BI Rate

Industri Masih Pede Kredit Tetap Tumbuh
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Sekaligus memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3 persen plus minus 1 persen (dengan jangkar 3 persen) lebih awal dari perkiraan semula. “Yaitu menjadi ke paruh atau semester pertama tahun 2023,” ujar Ryan.

Tak kalah pentingnya, sambung Ryan, keputusan BI tersebut juga untuk menjaga dan memperkuat upaya menstabilkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Terutama akibat semakin menguatnya mata uang dolar AS terhadap mata uang di seluruh dunia. Ditambah lagi, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini, kenaikan bunga acuan tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan kredit.

Ini terbukti pada September 2022, pertumbuhan kredit masih 11 persen secara tahunan. Begitu juga untuk pertumbuhan pembiayaan oleh perbankan syariah 19,0 persen. Dan kredit UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) 17,13 persen.

“Secara keseluruhan September pertumbuhan kredit 11 persen. Berarti lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 10,66 persen,” ucap Perry, saat konferensi pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara virtual.

Tak hanya itu, sambung Perry, dari sisi penawaran, berlanjutnya perbaikan intermediasi perbankan itu didukung oleh standar penyaluran kredit yang tetap longgar. Hal ini seiring dengan membaiknya hasrat perbankan dalam penyaluran kredit. Terutama di sektor industri, pertanian, perdagangan, maupun konstruksi.

Dengan memperhatikan perkembangan tersebut, BI yakin pertumbuhan kredit pada 2022 masih akan berada pada kisaran 9 sampai 11 persen secara tahunan.

“Hal itu ditopang oleh likuiditas perbankan dan perekonomian yang masih tetap longgar,” kata Perry.

Terpisah, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Royke Tumilaar menyampaikan, BNI sebagai bagian dari transformasi BUMN terus berupaya mendorong pertumbuhan yang sehat dan sustainable.

Untuk bisa survive, seperti dilansir dari RM.id, pihaknya menyasar debitur top tier di segmen industri prospektif. Serta melengkapi dengan kebijakan manajemen risiko yang prudent. Dengan ini, BNI yakin menumbuhkan kredit sebesar 7 sampai 10 persen di tahun 2022.

“Tentunya, transformasi memiliki peran penting,” ucap Royke dalam keterangannya yang dikutip, kemarin.


Tag: