Data menunjukkan, backlog di tahun 2020 saja sudah tercatat 12,75 juta. Merujuk pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), angka backlog akan terus naik bila tidak ada program yang mengurangi beban masyarakat untuk memiliki rumah.
Program apa saja yang ditawarkan BTN untuk memudahkan masyarakat punya rumah? Haru menyebut beberapa jenis.
Yaitu, program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), yang khusus menyasar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Skema ini menawarkan cicilan tetap selama 20 tahun. Dan telah berhasil mendorong kepemilikan 1,1 juta unit rumah. Selain itu, ada program Selisih Bantuan Uang Muka (SBUM) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB).
Untuk menggenjot pembiayaan perumahan, perseroan mengembangkan berbagai program yang lebih inklusif. Mantan General Manager Kantor Cabang BRI di New York ini bilang, program perumahan tidak lagi menyasar masyarakat berpenghasilan tetap. Tetapi, mulai ke golongan masyarakat di sektor informal, yang penghasilannya tidak tetap.
“Kami mengembangkan pola rent to own. Di awalnya sewa, nanti di akhirnya ada opsi memiliki atau beli properti,” terang pria jebolan Investment Banking Emory University, Amerika Serikat ini.
BTN juga punya program Graduated Payment Mortgage (GPM). Yaitu, menawarkan cicilan per bulan yang menyesuaikan dengan penghasilan konsumen.
Untuk mempermudah dan memperluas jangkauan, BTN juga bersinergi dengan Perumnas, Tapera dan BPJS Ketenagakerjaan. Semua upaya ini, diyakini Haru, akan menjadi kekuatan untuk memperkecil angka backlog perumahan.