Viral di TikTok, Simak Baik-baik 5 Bahaya Mandi Lumpur Berikut Ini


Viral di TikTok, Simak Baik-baik 5 Bahaya Mandi Lumpur Berikut Ini
Ilustrasi. Ada beberapa bahaya mandi lumpur yang perlu diketahui. (AFP/SONNY TUMBELAKA)

jaringberita.com - Belum lama ini, viral sejumlah siaran langsung di TikTok yang mempertontonkan aksi mandi lumpur. Dalam video tersebut, beberapa orang, kebanyakan ibu-ibu lansia, merendam tubuhnya di dalam bak berisi campuran air dan lumpur.

Banyak pula yang bertanya-tanya, apakah ada bahaya dari fenomena mandi lumpur TikTok?

Orang-orang yang disebut melakukan aksi 'ngemis online' ini juga menyiram tubuhnya dengan lumpur bila penonton siaran memberikan koin. Semakin banyak koin yang diberikan, semakin banyak pula jumlah lumpur yang disiramkan.

Namun, aksi seperti itu nyatanya memiliki konsekuensi pada kesehatan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Dokter spesialis kulit dan kelamin Arini Astari Widodo mengatakan, risiko yang mungkin terjadi dari aksi ini adalah timbulnya penyakit-penyakit infeksi yang dapat masuk melalui kulit.

"Penyakit infeksi terutama mudah terjadi pada kulit yang tidak intak (utuh). Misalnya kulit yang tergores, luka, baret akibat digaruk, dan lainnya," kata Arini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/1).

Infeksi yang dapat terjadi, lanjut Arini, bisa berupa infeksi bakteri yang masuk ke kulit yang tidak intak, infeksi jamur, infeksi parasit, atau manifestasi penyakit kulit akibat hewan yang berhabitat di lumpur tersebut.

Berikut beberapa bahaya mandi lumpur yang perlu diketahui.

1. Kurap

Arini menjelaskan, salah satu infeksi yang sering terjadi adalah infeksi jamur seperti tinea corporis atau dengan bahasa awam adalah kurap. Kondisi ini merupakan infeksi kulit jamur superfisial pada tubuh yang disebabkan oleh dermatofita.

Kondisi ini secara khusus ditentukan oleh lokasi lesi yang biasanya muncul di batang tubuh, leher, lengan, dan kaki.

"Dalam kasus yang jarang terjadi, kurap dapat menyebar ke manusia melalui kontak dengan tanah yang terinfeksi jamur jenis tinea tersebut," jelas Arini lebih lanjut.

Kurap biasanya akan ditandai dengan beberapa gejala seperti bercak merah berbatas tegas dengan tepi aktif. Terkadang, bercak merah ini juga terasa gatal.

2. Cutaneous larva migrans

Tidak hanya itu, mandi lumpur juga bisa menyebabkan cutaneous larva migrans (CLM). CLM merupakan penyakit kulit akibat infeksi cacing tambang yang masuk melalui kulit.

Menurut Arini, penyakit ini paling sering ditularkan melalui kotoran hewan yang bertelur di dalam tanah. Larva dari kotoran bisa masuk ke manusia melalui kontak langsung dengan kulit.

"Penyakit ini secara klasik terlihat di iklim yang lebih hangat, termasuk di Indonesia," ujar Arini menambahkan.

Gejalanya akan tampak seperti lesi kulit yang menjalar mengikuti gerakan cacing tambah di bawah kulit.

"Komplikasi sering timbul dari infeksi bakteri sekunder atau komplikasi dari terapi," tegasnya.

3. Leptospirosis

Arini juga menegaskan bahwa kegiatan mandi lumpur tidak menutup kemungkinan bisa membuat seseorang terjangkit penyakit yang lebih serius seperti leptospirosis. Akan tetapi, penyakit ini lebih jarang terjadi.

"[Bakteri] Leptospira dapat masuk melalui kulit yang tidak intak atau mukosa, misalnya [saat] kita terpapar tanah, lumpur, atau air yang terkontaminasi urine binatang yang mengandung bakteri," jelas Arini.

4. Ruam

Paparan dengan lumpur, kata Arini, tentunya juga dapat memicu ruam pada kulit yang merupakan manifestasi gigitan binatang kecil, alergi, atau iritasi. Biasanya keluhan ini disertai dengan rasa gatal.

5. Menurunkan barrier kulit

Selain itu, berada di dalam air dalam waktu lama juga dapat membuat kulit maserasi sehingga menurunkan barrier kulit terhadap paparan patogen. Hal ini kemudian memudahkan masuknya patogen melalui kulit.

"Sehingga berada dalam waktu lama di air kubangan atau lumpur yang terkontaminasi bakteri, jamur, parasit, atau pun hewan tentunya dapat meningkatkan risiko infeksi, ruam, dan masalah kulit lain pada kulit," pungkasnya.

Itulah penjelasan seputar bahaya mandi lumpur. Hindari aktivitas tersebut agar tubuh tetap sehat.

Penulis
: CNN Indonesia
Editor
: La Tansa

Tag: