Dalam pemeriksaan yang dilakukan terhadap sisa sampel obat yang dikonsumsi pasien, sementara ditemukan jejak senyawa yang berpotensi mengakibatkan gangguan ginjal akut. Namun, untuk memastikannya, Kemenkes dan BPOM masih menelusuri dan meneliti secara komprehensif, termasuk kemungkinan faktor risiko lainnya.
"Kalau kita melihat hasil penyelidikan atau penelitian di Gambia Afrika, itu memang ada dikaitkan dengan senyawa yang ada di empat macam obat batuk dan pilek yang sudah disebutkan BPOM mengandung dietilen glikol (DEG) maupun etilen glikol (EG). Kami belum bisa mem-publish karena sedang dalam penelitian. Insya Allah minggu depan hasil penelitiannya akan kita publish," janji Syahril.
Sebagai upaya pencegahan, Kemenkes meminta tenaga kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk cair/sirup, sampai hasil penelusuran dan penelitian tuntas. Kemenkes juga meminta seluruh apotek untuk sementara tidak menjual obat bebas dan/atau bebas terbatas dalam bentuk cair/sirup kepada masyarakat.
''Sebagai alternatif dapat menggunakan bentuk sediaan lain seperti tablet, kapsul, suppositoria (anal), atau lainnya,'' saran Syahril.
Saat ini, orang tua harus lebih waspada ketika anak balita mengalami penurunan jumlah atau frekuensi air kencing dengan atau tanpa demam, diare, batuk pilek, mual, dan muntah. Jika mengalami gejala tersebut, harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Keluarga pasien juga diminta membawa atau menginformasikan obat yang dikonsumsi kepada tenaga kesehatan. Sebagai langkah awal, Kemenkes melalui RSCM telah membeli antidotum yang didatangkan langsung dari luar negeri.
Senada dengan Kemenkes, IDAI juga meminta masyarakat tidak membeli obat bebas tanpa rekomendasi tenaga kesehatan. Mengingat belum diketahui pasti penyebab gangguan ginjal akut progresif atipikal ini, IDAI meminta orang tua menghindari aktivitas di ruang publik agar anak tidak terkena infeksi.
"Sebaiknya mengurangi aktivitas anak-anak khususnya balita yang memaparkan risiko infeksi (seperti kerumunan, ruang tertutup, tidak menggunakan masker)," saran dari IDAI.
Sampai saat ini, BPOM belum merinci nama-nama obat yang dapat menyebabkan gangguan ginjal akut. Namun, di kalangan masyarakat telah beredar, nama-nama obat tersebut. Setidaknya ada 15 merk obat yang mengandung DEG maupun EG, dan semua merk obat itu diproduksi perusahan Indonesia.
Rakyat Merdeka mencoba mengkonfirmasi merek obat-obatan yang mengandung DEG maupun EG ke Kepala BPOM Penny Lukito. Sayangnya, sampai tadi malam, Penny belum memberikan respons.
Namun, melalui keterangan resminya, BPOM memastikan produk obat batuk/parasetamol sirup yang mengandung DEG maupun EG produksi India tidak terdaftar dan tidak beredar di Indonesia.