Bahkan sang jendral menyatakan siap hadir dengan membawa sekeranjang onde-onde untuk untuk menandai keseriusan dukungannya pada acara yang dimotori GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) bersama Posko Negarawan.
Jendral yang cukup memahami kondisi psikologis masyarakat Papua -- karena sang jendral memang relatif cukup lama bertugas di Irian Barat itu dulu -- berjanji akan hadir pada acara seruan bersama para negarawan dengan membawa onde-onde istimewa khas Purwokerto itu.
Jadi sumbangan sekeranjang besar onde-onde yang lezat dan legit itu menandai keseriusannya yang suka berbicara secara las-lasan terbuka itu, sebagai ekspresi kejujuran dan keterbukaannya yang serius memberikan dukungan untuk acara agung yang sangat penting untuk disampaikan kepada pemerintah sekaligus rakyat bahwa negeri kita harus segera diselamatkan dari ancaman kehancuran.
"Mestinya, kalau pemerintah tidak mau mendengar seruan keprihatinan rakyat ini nanti, ya apa boleh buat biarkan saja jadi hancur sekalian", kata Jendral Bambang seperti susah Darmono seperti menahan kekesalan dan kemarahannya.
"Kami dari organisasi purnawirawan tidak sepakat dengan amendemen UUD 1945. Sebab UUD 1945 yang lama itu memang ada kelemahannya, karena memberi peluang bagi jabatan Presiden bisa dijabat tanpa batas", tandasnya.