Ayo Cegah Osteoporosis Penyebab Kematian Tertinggi


Ayo Cegah Osteoporosis  Penyebab Kematian Tertinggi

jaringberita.com -Menurunnya produktivitas, jadi beban ekonomi, hingga meninggal merupakan efek penyakit osteoporisis. Perlu edukasi dan perhatian serius menyikapi penyakit ini.

Ketua Tim Kerja Kesehatan Olahraga, Kementerian Kesehatan Ari Setyaningrum mengatakan, osteoporosis masih jadi penyebab kematian tertinggi dan beban bagi pasien, keluarganya, dan negara.

Pihaknya mengaku sudah memetakan langkah preventif osteoporosis. Pertama, meningkatkan aktivitas fisik. Setiap orang disarankan untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit per hari sebanyak tiga kali seminggu.

Kedua, mengkonsumsi makanan bergizi untuk mencukupi kebutuhan nutrisi harian. Selanjutnya ketiga, mendapat paparan sinar matahari yang cukup setiap hari. Keempat, menghindari gaya hidup tidak sehat seperti merokok. Terakhir, mewaspadai faktor risiko.

"Seperti riwayat keturunan, penyakit lain, penggunaan obat-obatan jangka panjang, menopause dini, dan penurunan tinggi badan yang signifikan," ujar Ari, dalam acara Bulan Kesadaran Osteoporosis yang jatuh bulan ini.

Tanggal itu juga bertepatan dengan peringatan Hari Osteoporosis Sedunia atau World Osteoporosis Day (WOD).

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) Lily Indriani menambahkan, kunci kesehatan tulang, sendi, dan otot adalah tetap bergerak aktif dan pemeriksaan kesehatan rutin.

Pada dasarnya, osteoporosis biasanya menunjukkan gejala. Seperti sakit punggung yang parah, kehilangan tinggi badan, atau membungkuknya tulang belakang. Oleh karena itu, pemeriksaan kepadatan tulang, sendi, dan otot penting untuk dilakukan.

Marketing Director Fonterra Brands Indonesia, produsen susu Anlene, Riescha Gayatri menyebut, pihaknya konsisten menghadirkan berbagai program untuk mengedukasi serta mencegah osteoporosis di Indonesia. Salah satunya adalah program rangkaian pemeriksaan Kesehatan tulang yang kami lakukan tahun ini.

Dia bilang, rangkaian pemeriksaan kesehatan tulang ini merupakan yang terbesar dilaksanakan di Indonesia.

"Kami berharap dapat terus membantu pencegahan osteopososis di Indonesia,” ucapnya.

Data Perosi menyebut, setidaknya 19,7 persen dari seluruh masyarakat Indonesia menderita osteoporosis. Satu dari tiga wanita, dan satu dari lima pria di atas usia 50 tahun di Indonesia mengalami osteoporosis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menggolongkan osteoporosis sebagai silent disease yang dapat mengancam masa tua. Makanya, perlu upaya pencegahan secara dini.

Terpisah, dokter Bambang Setiyohadi dari Divisi Reumatologi FKUI pernah bilang, pengeroposan tulang atau kerap disebut osteoporosis berpotensi secara tidak langsung menyebabkan beragam hal yang dapat membuat seseorang meninggal dunia.

"Tulang keropos dapat mengakibatkan patah tulang yang antara lain dapat membuat seseorang mesti selalu dalam keadaan berbaring sehingga pembuangan kotoran di saluran pernafasannya terganggu dan terjadilah infeksi paru-paru yang menyebabkan orang tersebut meninggal," katanya.

Ia memaparkan, pengeroposan tulang atau osteoporosis didominasi oleh perempuan antara lain karena salah satu pelindung tulang adalah hormon estrogen yang akan berhenti produksi pada saat perempuan mengalami menopause.

Sedangkan pada kaum laki-laki, lanjut Bambang, mereka tidak mengalami menopause sehingga proses pengeroposan tulangnya menjadi lebih lambat dibandingkan kaum perempuan pada umumnya.

Lulusan spesialis dokter penyakit dalam dari FKUI itu mengungkapkan, seperti dilansir dari RM.id, berdasarkan penelitian, risiko kematian bagi orang yang menderita osteoporosis sama dengan orang yang menderita kanker payudara bahkan lebih tinggi dari orang yang menderita kanker rahim.

"Satu penelitian juga menyebutkan, penyakit yang paling `menyusahkan` pihak asuransi salah satunya adalah osteoporosis. Hal ini antara lain karena waktu pengobatannya yang sangat lama, bahkan dapat hingga lebih dari lima tahun," katanya


Tag: