Resesi Amerika Serikat Sudah di Depan Pintu, Pasar Keuangan Bertumbangan


Resesi Amerika Serikat Sudah di Depan Pintu, Pasar Keuangan Bertumbangan
istockphoto
Ilustrasi
jaringberita.com - Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Jerome Powell memberikan gambaran yang buruk terkait dengan rencana kenaikan suku bunga acuan The FED nantinya. Di mana, kenaikan suku bunga acuan di AS bisa dinaikkan dari target awal sebelumnya.

"Saya menilai bahwa The FED akan sangat berpeluang untuk menaikkan bunga acuan hingga 6% ke depan," ungkapnya, Jumat (10/3/2023).

Artinya, jelas dia, apa yang dikhawatirkan oleh banyak pihak terkait dengan kemungkinan resesi sudah tidak terbantahkan lagi. Sebab sulit bagi AS untuk keluar dari ancaman resesi tersebut.

"Karena bunga tinggi akan terus menekan pertumbuhan ekonomi. Tentunya apa yang disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral AS sangat mencerminkan kondisi fundamental ekonomi AS. Di mana AS harus mengalami resesi untuk kemudian baru masuk ke periode pemulihan," jelasnya.

Akibat pernyataan The Fed tersebut, ujar Gunawan, pasar keuangan mengalami tekanan di akhir pekan ini. IHSG terkoreksi 0.51% di level 6.765,30. Tak hanya IHSG, banyak bursa di Asia yang bertumbangan, bahkan indeks bursa saham Hang Seng terpuruk hingga 3% pada perdagangan hari ini.

"Bursa di Eropa dan di Amerika juga mengalami keterpurukan yang tidak jauh berbeda," tuturnya.

Sedangkan kinerja mata uang rupiah, lanjut Gunawan, pada akhir pekan ini mencoba untuk melawan kuatnya tekanan US Dolar. Rupiah pada perdagangan akhir pekan ini di ditransaksikan di kisaran level 15.445 per US Dolar, setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan hingga ke level 15.500 per US Dolarnya.

"Tekanan pada mata uang rupiah ini memicu spekulasi apakah nantinya Gubernur BI akan merubah sikapnya atau tidak," katanya.

Karena sebelumnya, tuturnya, Gubernur BI, menyatakan tidak akan menaikkan bunga acuan lagi. Hal ini menurut Gunawan menjadi tanda tanya besar, mengingat The FED justru bersikap sebaliknya.

"Pelemahan rupiah belakangan ini tidak bisa dianggap enteng karena semua akar masalahnya ada di Bank Sentral AS. Kenaikan bunga acuan yang agressif di AS dan jika tidak diimbangi, akan lebih banyak menyisakan penderitaan bagi mata uang di banyak Negara termasuk Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, untuk harga emas, tambah Gunawan, sejauh ini masih terpantau stabil setelah sempat terpuruk sesaat usai Gubernur The FED menyampaikan pandangannya.

Harga emas saat ini ditransaksikan dikisaran $1.835 per ons troy, atau dikisaran 914 ribu per gramnya.

Editor
: Nata

Tag: