Sektor ini diyakininya masih tahan banting terhadap ancaman global. Untuk itu, perbankan syariah dituntut menunjukkan keunggulan produk KPR Syariah.
Sehingga sudah seharusnya bank-bank syariah mampu memacu pertumbuhan KPR syariah lebih tinggi. Mereka harus bisa menunjukkan kelebihan KPR syariah dibandingkan dengan KPR konvensional.
“BSI sangat diharapkan menjadi ujung tombak bagi kemajuan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia,” harapnya.
Dalam laporan kinerjanya, pembiayaan BSI tumbuh 22,35 persen atau sebesar Rp 199,82 triliun.
Kontribusi pembiayaan terbesar berasal dari bisnis mikro yang tumbuh 37,32 persen. Disusul pembiayaan kartu yang meningkat 35,81 persen dan pembiayaan gadai naik 30,15 persen.
Tak hanya itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 245,18 triliun. Atau tumbuh 11,86 persen pada periode yang sama. Kinerja positif ini didukung oleh kepercayaan masyarakat melalui penempatan DPK.
Bahkan, tabungan wadiah tumbuh melesat dan menjadi salah satu produk yang paling diminati masyarakat.
“Kinerja positif terus berlanjut pada kuartal III-2022. Berkat capaian tersebut, laba bersih BSI meningkat 42 persen secara year on year (yoy) mencapai Rp 3,21 triliun,” ucap Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam konferensi pers.
Hery mengatakan, capaian tersebut juga didukung oleh kualitas pembiayaan yang sangat sehat. Hal itu tercermin dari NPF (Non Performing Financing) Nett yang sangat terjaga yaitu hanya sebesar 0,59 persen.
Kinerja perseroan hingga September 2022 berada pada jalur tepat dan menuju pertumbuhan yang semakin solid.
Pihaknya akan terus melakukan transformasi dan efisiensi di internal serta mencermati perkembangan ekonomi di dalam negeri dan global.
“Agar kami dapat melakukan antisipasi dan terus mendorong pertumbuhan kinerja BSI yang sehat dan berkelanjutan,” tutur Hery.
Selain itu, kata Hery, kinerja perseroan yang konsisten tumbuh sehat terdorong oleh sinergi dan konsistensi membangun Islamic Ecosystem.