Mantul, BNI Raup Laba Bersih Rp 13,7 Triliun

Meski Ekonomi Dunia Makin Suram

Mantul, BNI Raup Laba Bersih Rp 13,7 Triliun
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (tengah) didampingi Wakil Direktur Utama Adi Sulistyowati (kiri) dan Direktur Keuangan Novita Widya Anggraini (kanan) menyampaikan Laporan Kinerja BNI Kuartal Ketiga 2022 dalam konferensi pers di Jakarta

Perkuat Strategi Konservatif

Dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang kian suram, Royke membeberkan beberapa strategi perusahaan untuk tetap bisa tumbuh. Yakni, BNI akan tetap fokus pada segmen yang memiliki return yang atraktif dengan kualitas kredit yang baik.

“Seperti korporasi sektor unggulan dan value chain-nya, pinjaman payroll di segmen konsumer, serta KUR di segmen kecil,” ungkap Royke.

Dengan strategi yang konservatif ini, sambung Royke, Net Interest Margin (NIM) diperkirakan akan berada di level yang moderat. Namun akan dikompensasikan dengan Cost of Credit atau biaya CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) yang rendah dan fee income yang optimal dari transaksi nasabah.

“Kami percaya ini adalah strategi yang tepat di tengah turbulensi ekonomi global, untuk memberikan hasil yang optimal dan sustainable bagi para pemegang saham kami,” ujarnya.

Diakui Royke, prospek ekonomi domestik berpotensi tidak lagi seimpresif semester pertama. Namun, perseroan masih melihat indikator makro ekonomi di Indonesia, akan cukup sehat dibandingkan negara lain.

Inflasi hingga September berada pada level 6 persen, dan masih cukup wajar untuk ukuran negara berkembang. Dan tahun depan diperkirakan membaik di bawah 4 persen.

“Perekonomian Indonesia diperkirakan relatif stabil, dengan didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang efektif untuk menjaga stabilitas,” tutup Royke.

Pengamat Perbankan Paul Sutaryono mengapresiasi capaianBNI. Dia melihat, BNI sebagai bagian dari Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara), sudah sewajarnya memiliki kinerja yang sangat positif.

Apalagi Himbara memiliki tugas sebagai agent of development, seperti lansiran dari RM.id, sehingga dituntut oleh banyak pihak untuk menjadi pionir dalam menggairahkan sektor riil.

“Bank-bank milik Pemerintah ini aktif mencari ceruk pertumbuhan berkualitas di masa pandemi, agar penyaluran dapat tumbuh lebih positif pada tahun kedua pandemi,” tukas Paul


Tag: