Kinerja IHSG berbalik mengalami tekanan, termasuk juga dengan kinerja mata uang rupiah. Padahal IHSG sempat ditutup menguat selama dua hari perdagangan di pekan ini, sementara mata uang rupiah kembali diperdagangkan di atas level 15.200 per US Dolarnya.
Hal ini sangat berbeda dengan sikap Bank Sentral AS sebelumnya yang menyebut bahwa telah terjadi disinflasi di AS. Demikian Pengamat Ekonomi Sumatera Utara Gunawa Benjamin dalam relisnya diterima redaksi, Kamis (16/2/2023).
Tanpa terkecuali suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia nantinya. Kenaikan suku bunga acuan secara terus menerus, ini berarti bahwa perang terhadap
inflasi serta tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi masih akan berlanjut di tahun 2023 ini.
Kita akan menderita lebih lama dengan tren kenaikan bunga acuan tersebut. Dan disaat bunga acuan berhenti naik, masalah juga belum sepenuhnya usai, karena kita masih harus menunggu sampai nantinya suku bunga acuan kembali diturunkan.
Dan tentunya selama itu pula (suku bunga tinggi) akan memberikan kerusakan ekonomi bukan hanya tekanan terhadap mata uang rupiah maupun IHSG.
Namun lebih dari itu, laju kenaikan harga barang serta tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi juga akan terjadi nantinya. Jadi wajar saja jika kenaikan laju tekanan inflasi di AS ini direspon negatiif oleh pelaku pasar.
BACA JUGA :BKKBN: Pancasila Harus Menjadi Inspirasi Menjawab Masalah Masyarakat Termasuk Stunting
Karena memang pada umumnya kenaikan inflasi yang juga diikuti dengan kenaikan suku bunga, kerap direspon dengan hal yang tidak jauh berbeda di sejumlah Bank Sentral di seluruh dunia.
IHSG pada perdagangan hari ini ditutup melemah 0.39% di level 6.914,54. Selama sesi perdagangan IHSg bahkan sempat melemah di kisaran level 6.877,34.
Sementara itu mata uang rupiah melemah dikisaran 15.200 per US Dolar pada perdagangan sore. Selain IHSG dan Rupiah, kinerja harga emas juga mengalami pelemahan di kisaran harga $1.833 per ons troy nya.