Meski Dibayangi Ancaman Resesi 2023, Sumut Tetap Optimis Dapat Tekan Angka Stunting


Meski Dibayangi Ancaman Resesi 2023, Sumut Tetap Optimis Dapat Tekan Angka Stunting
Istimewa
Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah bersama Sestama BKKBN Tavip Agus Rayanto memberikan keterangan Rakerda Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2023

"Sehingga kalau ada gejala stunting bisa kita langsung intervensi misalnya masalah gizi," ujarnya.

Lalu untuk Kabupaten Labura yang angka stuntingnya turun signifikan, karena adanya komitmen dari Kepala Daerah. Karena stunting ini, terangnya, bukan hanya masalah gizi saja, tetapi juga soal sanitasi, air bersih dan lainnya.

"Mudah-mudahan tahun 2024 bisa (mencapai) 14 persen. Tapi itu harus dapat ditahan jangan naik lagi. Sehingga ekonomi masyarakat dapat meningkat begitu juga SDM unggul menuju tahun emas 2045," pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Utama (Sestama) BKKBN Tavip Agus Rayanto mengatakan, stunting ini ada penyebab langsung dan tidak langsungnya. Misalnya, kata dia adalah air bersih, sanitasi, kemiskinan, masalah gizi kronis dan lain-lain.

Selain itu, lanjut dia, kawin terlalu muda atau terlalu tua, melahirkan terlalu dekat dan terlalu banyak juga dapat berpotensi menyebabkan akan stunting.

"Karena itu, empat terlalu itu harus dijaga. Karenanya kalau dulu programnya dua anak cukup sekarang menjadi dua anak sehat," terangnya.

Menurut Tavip, bila keseimbangan penduduk dapat terus dijaga, maka bonus demografi betul-betul bisa dimanfaatkan sebagai peluang bukan malah menjadi beban.

Hal ini dapat diwujudkan, tambahnya, dengan lima langkah, yakni pendataan keluarga stunting, melaksanakan pendampingan baik pasangan usia subur maupun calon pengantin. Berikutnya surveilans kasus stunting dan audit stunting.

"Inilah lima hal yang harus dilaksanakan di lapangan," tandasnya.

Editor
: Nata

Tag: