jaringberita.com -Ketua DPR, Puan Maharani disebut sebagai satu-satunya tokoh perempuan yang menonjol dan kemungkinan besar bertarung dalam Pilpres 2024. Kalau benar, siapa perempuan penantang tangguh Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP itu untuk bertarung berebut Kursi RI 1?
Lembaga Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menilai, dukungan publik terhadap sosok perempuan dalam Pilpres 2024 masih belum signifikan. “Baik pertanyaan terbuka dan semi terbuka, tokoh perempuan selalu di urutan terbawah,” kata Direktur Riset SMRC, Deni Irvani dilansir RM.id.
Dikatakan Deni, potensi elektabilitas tokoh dalam pemilihan presiden, baik perempuan maupun laki-laki, dapat dilihat dari hasil survei dengan dua format pertanyaan yang inklusif. Yakni format pertanyaan terbuka (top of mind) dan format pertanyaan semi terbuka.
Dalam pertanyaan terbuka, responden menyebutkan pilihan secara spontan. Sementara dalam pertanyaan semi terbuka, responden diberikan daftar banyak nama untuk dipilih tapi boleh memilih nama lain yang tidak ada di dalam daftar.
Deni memaparkan, dalam survei nasional SMRC yang dirilis Agustus 2022, pada simulasi terbuka, Ganjar Pranowo mendapat dukungan spontan paling tinggi meraih 17,6 persen, selanjutnya Prabowo 12,6 persen, Jokowi 12,5 persen, Anies Baswedan 9,1 persen, Ridwan Kamil 4,3 persen.
Tokoh-tokoh lain, termasuk tokoh-tokoh perempuan, mendapat dukungan spontan di bawah 2 persen, dan masih ada sekitar 32,4 persen yang belum tahu calon yang mau dipilih. Tokoh-tokoh perempuan sementara ini masih mendapat dukungan spontan yang sangat kecil. Megawati hanya didukung oleh 1,2 persen, selanjutnya Puan Maharani 0,7 persen, Najwa Shihab 0,7 persen, Khofifah Indar Parawansa 0,3 persen, Tri Risma Harini 0,2 persen, dan Susi Pujiastuti 0,1 persen.
Dikatakan, Puan yang memang paling realistis mendapat tiket, elektabilitasnya pun masih rendah. Namun, kata Deni, muncul sejumlah nama yang elektabilitasnya setara dan dapat menyaingi Puan. “Tapi kesimpulannya, dukungan kepada tokoh-tokoh perempuan belum ada yang signifikan dalam pertanyaan terbuka,” ujarnya.
Hasil yang konsisten juga terlihat dari pertanyaan semi terbuka. Dalam pertanyaan semi terbuka dengan daftar 43 nama, Ganjar mendapat dukungan terbanyak 25,5 persen, disusul Prabowo 16,7 persen, Anies 14,4 persen, Ridwan Kamil 6 persen, AHY 3,8 persen. Nama-nama lain di bawah 3 persen, dan yang belum tahu 15,1 persen.
“Dalam simulasi semi terbuka juga belum ada yang signifikan. Khofifah paling tinggi mendapat dukungan, tapi hanya 1,6 persen. Disusul Megawati 1,5 persen, Puan Maharani 1 persen, Tri Rismaharini 0,8 persen, dan Susi Pujiastuti 0,4 persen,” paparnya.
Sebelumnya, Peneliti Senior Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Ashma Nur Afifah menyatakan, pemimpin perempuan ternyata diinginkan publik. Terutama, masyarakat pedesaan dan generasi Z. Masyarakat desa lebih terbuka dan menerima presiden perempuan di angka 57,6 persen. Lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan 53,6 persen.
Bahkan, secara spesifik, ada 19,1 persen masyarakat desa yang merasa senang Puan maju sebagai capres 2024. Dibandingkan masyarakat perkotaan yang hanya 9,2 persen. “Puan dianggap sebagai perwakilan dari kelompok yang merindukan perempuan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan,” ungkapnya dalam sebuah diskusi belum lama ini.
Pendiri Lembaga KedaiKOPI Hendri Satrio malah menyarankan PDIP tak ragu mencalonkan Puan Maharani maju sebagai Capres 2024. “Sebagai pemegang boarding pass Pilpres 2024, Puan harus maju sebagai capres, bukan cawapres” katanya.
Menurutnya, Puan tidak bisa disamakan dengan tokoh lain. Puan satu-satunya perempuan yang memiliki tiket maju pada Pilpres 2024, tanpa perlu berkoalisi dengan partai lain. “Puan bisa bebas memilih wakilnya. Yang perlu diingat, Puan selalu tegak lurus dengan keputusan parpolnya. Dia tahu, keputusan capres dari PDIP hanya bisa diputuskan Megawati,” tegasnya.