Tokoh-tokoh lain, termasuk tokoh-tokoh perempuan, mendapat dukungan spontan di bawah 2 persen, dan masih ada sekitar 32,4 persen yang belum tahu calon yang mau dipilih. Tokoh-tokoh perempuan sementara ini masih mendapat dukungan spontan yang sangat kecil. Megawati hanya didukung oleh 1,2 persen, selanjutnya Puan Maharani 0,7 persen, Najwa Shihab 0,7 persen, Khofifah Indar Parawansa 0,3 persen, Tri Risma Harini 0,2 persen, dan Susi Pujiastuti 0,1 persen.
Dikatakan, Puan yang memang paling realistis mendapat tiket, elektabilitasnya pun masih rendah. Namun, kata Deni, muncul sejumlah nama yang elektabilitasnya setara dan dapat menyaingi Puan. “Tapi kesimpulannya, dukungan kepada tokoh-tokoh perempuan belum ada yang signifikan dalam pertanyaan terbuka,” ujarnya.
Hasil yang konsisten juga terlihat dari pertanyaan semi terbuka. Dalam pertanyaan semi terbuka dengan daftar 43 nama, Ganjar mendapat dukungan terbanyak 25,5 persen, disusul Prabowo 16,7 persen, Anies 14,4 persen, Ridwan Kamil 6 persen, AHY 3,8 persen. Nama-nama lain di bawah 3 persen, dan yang belum tahu 15,1 persen.
“Dalam simulasi semi terbuka juga belum ada yang signifikan. Khofifah paling tinggi mendapat dukungan, tapi hanya 1,6 persen. Disusul Megawati 1,5 persen, Puan Maharani 1 persen, Tri Rismaharini 0,8 persen, dan Susi Pujiastuti 0,4 persen,” paparnya.
Sebelumnya, Peneliti Senior Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Ashma Nur Afifah menyatakan, pemimpin perempuan ternyata diinginkan publik. Terutama, masyarakat pedesaan dan generasi Z. Masyarakat desa lebih terbuka dan menerima presiden perempuan di angka 57,6 persen. Lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan 53,6 persen.
Bahkan, secara spesifik, ada 19,1 persen masyarakat desa yang merasa senang Puan maju sebagai capres 2024. Dibandingkan masyarakat perkotaan yang hanya 9,2 persen. “Puan dianggap sebagai perwakilan dari kelompok yang merindukan perempuan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan,” ungkapnya dalam sebuah diskusi belum lama ini.
Pendiri Lembaga KedaiKOPI Hendri Satrio malah menyarankan PDIP tak ragu mencalonkan Puan Maharani maju sebagai Capres 2024. “Sebagai pemegang boarding pass Pilpres 2024, Puan harus maju sebagai capres, bukan cawapres” katanya.
Menurutnya, Puan tidak bisa disamakan dengan tokoh lain. Puan satu-satunya perempuan yang memiliki tiket maju pada Pilpres 2024, tanpa perlu berkoalisi dengan partai lain. “Puan bisa bebas memilih wakilnya. Yang perlu diingat, Puan selalu tegak lurus dengan keputusan parpolnya. Dia tahu, keputusan capres dari PDIP hanya bisa diputuskan Megawati,” tegasnya.