Sementara menurut survei global di tahun 2018, sebanyak 66 persen milenial bersedia membeli pakaian lebih banyak untuk merek yang berkelanjutan dan sebanyak 69 persen memperhatikan klaim branding eco-friendly dan sustainable saat membeli pakaian.
“Produk sustainable fashion yang inovatif juga menghadirkan banyak pilihan untuk konsumen, terutama bagi konsumen berkebutuhan khusus. Produk fashion akan semakin adaptif sesuai kebutuhan konsumen yang kian beragam, ini jadi tanda bagi pelaku bisnis fashion lebih jeli membaca pasar dan terus berinovasi mengembangkan produknya,” tegasnya lagi.
Produk sustainable fashion saat ini juga diarahkan kepada produk lokal dengan ketahanan dan kualitas yang baik, serta diproduksi dalam jumlah yang terbatas sehingga diharapkan memiliki jejak karbon lebih kecil daripada produk buatan luar negeri.
Pasalnya di balik potensi industri ini, isu soal limbah fashion, proses pembuatan produk, bahkan isu eksploitasi pekerja. Seakan hadir sebagai salah satu solusi, sustainable fashion atau fashion berkelanjutan pun seperti dilansir RM.id kini mendapat tempat istimewa di hati konsumen.
“Ada dua bisnis sustainable fashion yang pernah berkiprah dalam DSC antara lain Batik Al-Warits dari DSC 2015, dan Pijakbumi dari DSC 2021. Bisnis batik dan alas kaki itu menggunakan material ramah lingkungan,” ungkap Edric.