Kesepakatan gencatan senjata dikabarkan terjadi setelah Putin menelepon Perdana Menteri (PM) Armenia, Nikol Pashinyan, Selasa (12/9). Media lokal Azerbaijan juga melaporkan, gencatan senjata sempat disepakati namun sudah dilanggar.
Rabu (14/9), Kementerian Pertahanan Armenia mengklaim, militer Azerbaijan melakukan serangan artileri ke kota-kota perbatasannya. Serangan itu termasuk drone dan senjata api kaliber besar yang ditembakkan ke arah Goris, Sotk, dan Jermuk. Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengakui serangan itu. Namun berdalih serangan skala kecil itu penting untuk memastikan keamanan perbatasan negaranya.
Azerbaijan menuding pasukan Armenia yang pertama kali menyulut ketegangan dengan menembakkan senjata ringan ke arah permukiman Novoivanovka di Gadabay dan pemukiman Husulu di Lachin, dekat perbatasan kedua negara pada Senin (11/9). Namun Armenia membantah tuduhan itu.
Bentrokan pekan ini menjadi yang paling mematikan setelah kedua negara sempat terlibat perang singkat selama enam pekan pada September 2020. Saat itu, kedua negara saling berebut klaim atas wilayah Nagorno-Karabakh, sebuah wilayah perbatasan yang dihuni etnis mayoritas Armenia namun terletak di wilayah Azerbaijan. Kedua negara telah memperebutkan Nagorno-Karabakh selama puluhan tahun.
Setelah pertempuran enam pekan berlangsung dan merenggut sekitar 6.000 nyawa, gencatan senjata akhirnya disepakati Armenia-Azerbaijan yang ditengahi Rusia pada 9 November 2020. Perjanjian itu memaksa Armenia menyerahkan sebagian wilayahnya di Nagorno-Karabakh kepada Azerbaijan.
Meski peperangan berhenti, serangkaian bentrokan masih sering terjadi di daerah itu setelah gencatan senjata tercapai.