jaringberita.com -Medan, Konferwil XVIII Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumut mulai panas. Pasalnya, Konferwil PWNU Sumut baru akan dibuka, Jumat (9/9) besok namun nama-nama Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sudah beredar di grup-grup WA warga Nahdliyin di Sumut.
Informasi yang didapat redaksi, Kamis (8/9) sebuah pesan dikirimkan oleh pengurus PWNU Sumut dengan bunyi sebagai berikut: Hasil Rapat Internal PCNU di Parapat. Calon AHWA:
1. Drs. H. Khoiruddin Hasibuan (Rois Syuriah PCNU Palas) 2. KH. Abdul Halim Lubis (Rois Syuriah PCNU Simalungun) 3. KH. Bahauddin (Rois Syuriah PCNU Madina) 4. Syeikh Kusoini Lubis (Rois Syuriah PCNU Labusel) 5. KH. Amir Panatagama ( Rois Syuriah PCNU Deli Serdang) 6. KH. Tahan Siregar (Rois Syuriah PCNU Batubara) 7. KH. Abdul Hadi (Ulama Gunung Sitoli).
Munculnya nama-nama AHWA ini membuat para pengurus PWNU Sumut resah dan mulai kasak-kusuk mencari informasi. Apalagi nama-nama calon AHWA tersebut semuanya berasal dari PCNU kabupaten/kota di Sumut. Anehnya, tidak ada satupun nama calon AHWA yang berasal dari Kota Medan atau dari kalangan syuriah PWNU Sumut. Hal ini menimbulkan tandatanya bagi para peserta Konferwil PWNU Sumut.
Sekedar informasi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bukan istilah asing di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Sistem yang tercermin dalam musyawarah mufakat itu pertama kali diterapkan dalam Muktamar ke-33 NU di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Ishomudin menjelaskan, pengambilan istilah AHWA merujuk pada sejarah Islam yang terjadi di masa sahabat. AHWA merupakan sebuah sistem untuk memilih pemimpin yang pernah dilakukan pasca-wafatnya sahabat Umar bin Khattab RA.
Kiai yang kerap disapa Gus Ishom itu lebih jauh mengurai, saat Umar bin Khattab dalam keadaan sakit karena ditusuk belati oleh seorang budak Persia, ia kemudian menunjuk enam orang yang terdiri dari Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.
“Keenam orang itulah yang kemudian menjadi badan formatur atau Ahlul Halli wal Aqdi yang bertugas untuk bermusyawarah dalam menentukan pengganti pemimpin selanjutnya,” terangnya saat bedah buku Ahlul Halli wal Aqdi karya Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur, H M Hasan Ubaidillah. Kegiatan digelar Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia (Aspirasi) bekerja sama dengan Fakultas Syariah IAIN Jember. Atas dasar sejarah itulah menjadi gagasan bagi NU untuk menggunakan sistem AHWA dalam memilih pemimpin NU khususnya Rais Aam dan Rais Syuriyah di berbagai tingkatan kepengurusan.