Dikatakannya, pihaknya menduga yang melakukan unjuk rasa itu bukan dari warga setempat, melainkan dari kelompok atau pegawai tempat bisnis yang ada di dekat pesantren tersebut.
"Saya menduga demo itu orang yang bekerja di lokasi bisnis tempat wisata itu. Diduga ada desakan kepentingan dibelakang mereka. Ditambah dengan keterangan pemilik, tidak didukung keluarga setempat. Patutut diduga kuat segelintir orang tertentu karyawan hotel," ucapnya.
Indra menyayangkan adanya unjuk rasa tersebut, karena tempat itu sudah lama berdiri. Bahkan itu merupakan tempat penghafal quran. Sudah pasti, mereka seorang anak yang tidak menggangu masyarakat setempat.
"Saya lihat video itu, tertulis "warga menolak menimbulkan keresahan warga". Itu tulisan opini yang sesat, saya yakin pesantren tahfiz mengajarkan kalam suci. Mereka tidak mau banyak bicara, karena takut hafalannya hilang," ujarnya.
Sambugnya, ujuk rasa itu merupakan framing yang kontraproduktif Pancasila. Karena Pancasil merupakan landasan agama."Jangan ajarkan kami toleransi, ini terlalu ugal-ugalan. Kita sudah cukup tau tentang toleransi kepada agama, suku dan ras," tambahnya.
Untuk itu, FUI akan melakukan kordinasi komunikatif dengan cara pihak terkait seperti kepolisian, pemerintah setempat lainnya. "Desakan laskar, besok untuk ke sana. Tapi, kami masih tahap pendekatan," tambahnya.