Willem Iskandar Pelopor Guru Nasional Dari Mandailing Yang Terlupakan


Willem Iskandar Pelopor Guru Nasional Dari Mandailing Yang Terlupakan

Setelah berjalan beberapa lama dan dinilai cukup berkualitas, Kweekschool Tanobato direncanakan untuk ditingkatkan kapasitasnya dan dipindahkan ke Padang Sidempuan.

Willem Iskander sendiri kemudian dikirim pemerintah untuk studi ke Negeri Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Kweekschool Tanobato kemudian ditutup, dan Willem Iskander berangkat ke Belanda lagi di tahun 1875.

Tapi, setahun kemudian, Willem Iskander meninggal dunia di Belanda.

Diaspora Alumni Kweekschool Padang SidempuanPada 1871, Padang Sidempuan telah ditetapkan sebagai ibukota Afdeeling Mandailing Angkola, menggantikan Panjaboengan.

Pertumbuhan Padang Sidempuan di paruh kedua abad ke- 19 itu terbilang pesat.

Hal ini terlihat dari berbagai fasilitas umum yang diperuntukkan terutama untuk orang-orang Eropa dan pegawai (ambtenaar) pemerintah kolonial dan kaum bangsawan setempat.

Memang, di masa itu komunitas orang-orang Eropa di Padang Sidempuan dari waktu ke waktu makin bertambah.

Orang-orang Belanda yang tinggal di Padang Sidempuan selain pejabat pemerintah dan kalangan guru, juga ada wisatawan, peneliti, serta investor perkebunan kopi. Juga polisi dan pasukan militer.

Pada 1880, di Padang Sidempuan sudah tersedia berbagai fasilitas umum dan pendidikan yang cukup memadai, seperti: garnisun/markas militer, kantor dan rumah dinas Residen dan para pejabat pemerintah kolonial lainnya, kantor pos dan telegraf, pasar, rumah sakit, pengadilan dan penjara, pesanggrahan, beberapa sekolah dasar, dan sebuah sekolah guru.

Pada 1873, Departement van Onderwijs di Batavia merencanakan pendirian sekolah dasar pemerintah atau Inlandsche School, jumlahnya sebanyak 10 sekolah di seluruh Keresidenan Tapanoeli.

Dari sepuluh sekolah dasar pemerintah yang dibangun di Keresidenan Tapanoeli masa itu, delapan di antaranya berada di Afdeeling Mandailing-Angkola. Dan salah satu sekolah dasar pemerintah yang terbaik berada di Padang Sidempuan.

Sekolah yang kemudian dikenal dengan nama ‘Sikola Topi Saba’ ini menjadi tempat tujuan baru untuk bersekolah bagi anak-anak dari pemukiman di pusat kota dan anak-anak yang berasal dari kawasan ‘parsabaan'(persawahan, pinggiran atau pedalaman) seperti Batang Ajoemi, Tanobato, Sigiring-giring, Sihadabuan, Panyanggar, dan Sidangkal.SesuaiHarnsen. Pada tahun 1883 posisi Harnsen digantikan oleh salah seorang guru Kweekschool Padang Sidempuan bernamarencana pemerintah kolonial Belanda, tahun 1879 dibuka Kweekschool Padang Sidempuan, dengan kepala sekolah Mr. Charles Adriaan van Ophuijsen.

Putra mantan Kontrolir Natal ini berdinas sebagai guru di Padang Sidempuan selama delapan tahun, dan lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah tersebut.

Saat dipimpin Van Ophuijsen, Kweekschool Padang Sidempuan pernah dinobatkan sebagai sekolah guru terbaik di Hindia-Belanda.

Van Ophuijsen, yang belajar bahasa Melayu dan Mandheling, kelak menjadi penyusun tata bahasa Melayu dan ejaan Ophuijsen serta menjadi guru besar tata-bahasa dan sastra Melayu di Universitas Leiden.

Sejumlah lulusan Kweekschool Padang Sidempuan berperan penting dalam mendorong semangat kebangsaan di Tapanuli, bahkan di kalangan bangsa Indonesia.

Dua tokoh yang pantas disebut adalah Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan Soripada.

Dja Endar Moeda dikenal luas sebagai “Raja Surat Kabar Sumatra” di masa itu. Tokoh ini dikenal sebagai orang pribumi pertama yang memiliki percetakan di Sumatra.

Dja Endar Moeda juga merupakan jurnalis andal, yang menjadi pemimpin redaksi, bahkan pendiri dan pemilik sejumlah surat kabar yang terbit di Padang, Sibolga, Medan, sampai Aceh.

Surat-kabar terkenal di masa itu yang dipimpinnya, antara lain: Tapian Na Oeli (terbit di Sibolga), Pertja Barat(terbit di Padang), Pewarta Deli (terbit di Medan), dan Pemberita Aceh.

Gagasan utama Dja Endar Moeda adalah meningkatkan peran kaum terpelajar dalam memajukan bangsa Indonesia melalui sekolah dan pers.

Adapun Soetan Casajangan Soripada (1874-1927), kelahiran Padang Sidempuan, berangkat ke Belanda tahun 1904, setelah menyelesaikan pendidikannya di Kweekschool Padang Sidempuan.

Di negeri Belanda, ia melanjutkan pendidikan di sekolah guru di Haarlem selama satu tahun sembilan bulan. Kemudian Soetan Casajangan menjadi asisten Prof.

Charles Adriaan van Ophuijsen, di Rijksuniversiteit Leiden untuk mata kuliah Bahasa Melayu, Sejarah Indonesia, Islam, Daerah dan Penduduk Indonesia.

Pada Juni 1908, Soetan Casajangan menggagas pembentukan Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia, dan ia terpilih sebagai ketua pertama organisasi tersebut sebangai tokoh pionir pendidikan nasional.

Alumni Kweekschool Padang Sidempuan lainnya kebanyakan berkiprah sebagai guru di berbagai wilayah.

Muhammad Taif Nasution, misalnya, menjadi guru di Aceh. Taif Nasoetion adalah ayah dari Muhammad Amin Nasoetion (sering disebut S.M. Amin), yang merupakan gubernur pertama dan gubernur pertama provinsi RIAU, Taif Nasution kembali ke Manambin, Mandailing, kampung halamannya.

Ada pula Adem Loebis, yang juga menjadi guru di Aceh.

Adem Loebis adalah ayahanda Kolonel Zulkifli Lubis, yang berkarir di militer bidang intelijen hingga pernah menjadi Wakil KSAD, Selamat hari guru nasional 25 november 2022.

Penulis Presiden Ikatan Pemuda Mandailing Bung Tan Gozali Nasution.(Asril)

Penulis
: Asril-Matatelinga.com

Tag: