Total 234 Kasus Rabies Terjadi di Indonesia Sepanjang Tahun 2023


Total 234 Kasus Rabies Terjadi di Indonesia Sepanjang Tahun 2023
istockphoto
Ilustrasi
jaringberita.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 234 kasus rabies yang dilaporkan sepanjang tahun 2023 ini.

Dilansir dari CNNI, Sabtu (3/6/2023), ratusan kasus rabies ini terjadi di 10 provinsi di Indonesia.

"Tahun 2023 itu sudah mencapai 234 kasus dari 10 provinsi," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi, Jumat (2/6/2023).

10 provinsi yang mencatat kasus rabies itu yakni Bali, Jambi, Kalimantan Selatan, Lampung, NTB, NTT, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara.

Imran mengungkapkan dari data tersebut angka kematian paling tinggi tercatat di Sulawesi Selatan dengan jumlah 3 kasus.

Disampaikan Imran, dari 10 provinsi yang mencatat kasus rabies itu, setidaknya ada dua kabupaten yang sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

Kedua kabupaten itu berada di wilayah NTT yakni Kabupaten Sikka dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Imran juga menerangkan penetapan status KLB ini bukan dilakukan oleh pihak Kemenkes. Melainkan ditetapkan oleh masing-masing kepala daerah.

"Karena TTS ini sebenarnya tidak pernah ada kasus rabies, kalau Flores sudah beberapa tahun lalu sudah ada. Tapi TTS ini enggak pernah ada, jadi begitu ada (kasus rabies), perlu ditetapkan KLB," jelasnya.

Sebelumnya, Kemenkes menyebut ada sebanyak 3.437 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dilaporkan terjadi di provinsi NTT sepanjang 2023.

Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menambahkan dari ribuan kasus itu seorang warga di TTS dinyatakan meninggal dunia dan sudah terkonfirmasi anjing yang menggigit korban tersebut rabies.

"Jumlah kasus GHPR pada Januari-April 2023 sebanyak 3.437 kasus, dan betul telah terjadi KLB rabies di Kabupaten TTS," kata Syahril, Rabu (31/5/2023).

Sebagai langkah antisipasi, kata Syahril, Kemenkes pun melakukan koordinasi dengan Dinkes Provinsi NTT untuk penanggulangan KLB dan melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mencari kasus GHPR tambahan.

Editor
: Nata

Tag: