NasDem Double Buntung


NasDem Double Buntung

Posisi puncak ditempati PDIP dengan 24 persen. Posisi kedua dipegang Gerindra dengan 13,5 persen. Sedangkan posisi ketiga diduduki Golkar dengan 8,5 persen.

Sedangkan posisi empat sampai enam secara berturut-turut adalah PKB (7,1 persen), PKS (6,9 persen), dan Demokrat (5,5 persen). Lalu, di bawah NasDem ada PPP (3,3 persen), Perindo (2,1 persen), dan PAN (1,2 persen).

NasDem termasuk partai yang dukungannya cenderung menurun dibanding Pemilu 2019. Di Pemilu 2019, NasDem memperoleh 9,1 persen. Namun kini, tinggal 5,4 persen.

Kondisi ini seakan menambah kerugian NasDem setelah mendeklarasikan Anies sebagai capres. Sebelumnya, NasDem dimusuhi koalisi pendukung pemerintahan Presiden Jokowi karena deklarasi ini. Bahkan, PDIP sampai mendesak NasDem untuk keluar dari koalisi pemerintah.

Menyikapi hal ini, Ketua DPP NasDem Willy Aditya bicara terus terang. Dia menyadari, titik lemah NasDem ada di ukuran kedekatan pemilih dengan partai atau sering diistilahkan dengan party identification (party id). Sehingga banyak pemilih yang dengan mudah datang dan pergi.

"Mungkin yang relatif cukup kuat itu PDIP sama PKS. Ini mengingat corak ideologi mereka yang kuat di mata pemilihnya. Sementara partai-partai lain, sok-sok aja," kata Willy, saat dikonfirmasi tadi malam.

Ia melihat, ada pragmatisme yang kuat ketika para pemilih akan memilih partai-partai di luar dua partai tersebut. Hal itu dipengaruhi berbagai macam faktor, di antaranya capres dan para caleg.

"Jadi wajar kalau teridentifikasi bahwa ada pemilih NasDem berpindah pilihan, sebagaimana partai lain juga ternyata banyak yang pindah juga ke NasDem. Jadi ini seperti aliran yang natural saja. Besok pilih partai A, lusa partai B. Tidak ada masalah," jelasnya.

Pengamat politik Ray Rangkuti berasumsi, banyaknya pemilih NasDem yang minggat salah satunya memang dipicu pendeklarasian Anies sebagai capres. Sebab, basis pemilih NasDem di pemilu lalu adalah pemilih moderat dan pendukung Jokowi.

"Pernyataan Zulfan Lindan bahwa Anies itu antitesis Jokowi cukup berdampak. Betapapun NasDem membantahnya, saya kira pernyataan Zulfan Lindan akan mencerminkan NasDem di masa akan datang," ucap Ray, kemarin.

Namun, ia tidak meragukan insting politik Surya Paloh. Karena bisa saja akan ada strategi baru yang dimainkan untuk mendongkrak jumlah pemilih setelah temuan survei ini.

"Ini evaluasi bagus untuk NasDem. Tapi usul saya lebih baik keluar dari kabinet sekalian. Fokus di oposisi, supaya suara oposisi sekalian ke NasDem," sarannya.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno punya analisis yang sama. Besar kemungkinan banyaknya pemilih NasDem minggat karena dipicu deklarasi Anies sebagai capres.

"Mungkin saja itu efek deklarasi ke Anies. Karena selama ini basis pemilih NasDem anti terhadap Anies," kata Adi, ketika dikonfirmasi tadi malam.

Menurutnya, tak mudah memang memadukan antara sosok Anies dengan basis pemilih NasDem yang sejak awal berseberangan dengan Anies. "Sepertinya butuh waktu," tandasnya.


Tag: