Alasan batalnya karena PKS masih harus menggelar rapat majelis syuro pada Desember nanti. Selain itu, Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga baru pulang ke Tanah Air dari pada 10 November.
Apa NasDem kecewa? Diungkapkan Willy, pihaknya menghormati mekanisme yang ada di masing-masing parpol calon mitra koalisi. “Ya kita tunggulah ya, tentu kita harus menghormati mekanisme partai, bagaimana masing-masing partai,” katanya.
Namun, anggota Komisi XI DPR itu memastikan komitmen yang terbangun oleh masing-masing parpol calon penggagas Koalisi Perubahan semakin mengerucut. Saat ini ketiga parpol hanya tinggal menuangkan kesepahaman dalam bentuk kesepakatan formal.
“Paling cepat akhir tahun (deklarasi). Namun tidak tertutup kemungkinan one by one. Setelah NasDem, Demokrat, mungkin PKS. Jadi tidak mesti deklarasi bersama,” jelas dia.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menduga alotnya komunikasi ketiga parpol itu tak lepas dari sosol cawapres yangakan mendampingin Anies. PKS mengakukan eks Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan sebagai cawapes.
Sedangkan Demokrat sejauh ini masih kekeuh untuk mengusung Agus Harimurti Yudhoyono menjadi cawapres. “Padahal Aher (Ahmad Heryawan) tidak menjual. Namun karena kader yang dijualnya tinggi, maka mahal juga dalam konteks berkoalisi. Makanya tarik ulur penerapan koalisi belum terlaksana,” pekik Ujang kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun, Ujang meyakini Koalisi Perubahan pasti akan terbentuk. Komposisinya masih sama: NasDem, Demokrat, dan PKS. “Saya rasa mungkin saja setelah November bisa deklarasi koalisi. Toh masih lama pendaftaran capres-cawapres. Jadi kalaupun tidak deklarasi hari ini, tidak ada masalah. Waktu masih panjang,” tukas dia.
Pakar komunikasi politik, Lely Arianne menilai batalnya deklarasi koalisi ketiga parpol tersebut besok lebih dikarenakan masalah kepentingan. “Politik itu kan pertemuan dan pertentangan dua kepentingan, hasil akhirnya adalah kompromi,” kata Lely tadi malam.
Hitungannya, koalisi NasDem-PKS dan Demokrat ini agak rumit. Karena sejatinya, seperti dilansir oleh jaringberita.com dari laman RM.id, PKS yang sejak awal ingin mengusung Anies malah ‘keduluan’ oleh NasDem. Sehingga diperlukan kompromi di panggung belakang, agar kepentingan terakomodir.
“PKS dapat apa belum ketemu. Dengan positioning PKS yang diduluin NasDem ini menjadi satu persoalan yang belum muncul dalam kompromi itu. Sementara AHY ngebet banget Cawapres,” jelasnya.