jaringberita.com -Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengakui jika target Indonesia menuju tiga zero HIV/AIDS tahun 2030 belum optimal.
Adapun tiga zero yang dimaksud tersebut, yakni zero infeksi baru HIV, zero kematian terkait AIDS dan zero stigma diskriminasi.
“Infeksi HIV masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional. Kasus HIV di Kawasan Asia Tenggara menyumbang 10 persen dari total beban HIV di seluruh dunia,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi dilansir dari ANTARA, Selasa (29/11/2022).
Lebih lanjut Imran menuturkan bahwa berdasarkan data yang dihimpun Kemenkes dari 2010-2020, tren penemuan kasus infeksi mengalami penurunan sebanyak 50 persen dari semula 52.990 kasus di tahun 2010, turun menjadi 26.730 kasus pada 2020. Sementara untuk temuan kasus yang ditargetkan pemerintah di tahun 2020 sebesar 14.000 kasus.
Meski mengalami penurunan, nyatanya pandemi Covid-19 membuat upaya eliminasi HIV/AIDS yang dilakukan pemerintah mengalami keterlambatan. Pemerintah sudah membuat jalur cepat untuk mengakhiri epidemic HIV dengan membuat target indikator.
Dimana dalam indikator itu ditargetkan 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui status HIV nya, 95 persen ODHIV diobati dan 95 persen ODHIV yang diobati mengalami supresi virus. Sayangnya, estimasi ODHIV yang ada di Indonesia sampai dengan September 2022 berjumlah 526.841.
Namun, ODHIV yang hidup dan mengetahui statusnya baru sebanyak 79 persen atau 417.863 orang saja. Sementara ODHIV yang sedang mendapatkan pengobatan ARV baru 169.767 orang atau 41 persen dan ODHIV yang virusnya tersupresi 27.381 orang.
“Tantangan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia cukup besar. Berdasarkan pengamatan data 2018-2020 saja, tampaknya upaya pencegahan penularan HIV khususnya pada perempuan, anak dan remaja belum optimal,” jelasnya.
Imran kemudian membeberkan hal lain yang membuat penanggulangan HIV belum optimal adalah sebagian kasus HIV ditemukan pada kelompok usia 25-49 tahun.
Setiap tahunnya pun, masih ditemukan anak dengan HIV yang menunjukan penularan HIV dari ibu ke anak masih memerlukan penguatan. Di tambah dengan masih dirasakannya ketidaksetaraan dalam layanan HIV khususnya pada anak, perempuan dan remaja serta stigma dan diskriminasi yang mengakar kuat.