Sebaliknya, dia menuding pihak yang selama ini bising, justru tidak memberikan dukungan ke pemerintah. Malah para politisi-politisi itu, terkesan mengganggu jalannya pemerintahan.
“Yang buat bising sama dengan tidak memberikan dukungan pada pemerintah dan bahkan dapat mengganggu jalannya roda pemerintahan,” ucap Johnny.
Analis politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Power, Ikhwan Arif menilai saat ini Presiden Jokowi dalam kondisi yang tidak mudah. Mengingat, hubungan di antara partai anggota koalisi sudah tidak harmonis lagi. Ditambah lagi desakan reshuffle kabinet yang begitu kuat dari PDIP.
“Kekuatan partai politik pendukung pemerintah Jokowi seolah-olah terbelah dua, yang satu melanjutkan titahnya Jokowi yang lainnya membentuk kerja sama politik dengan partai politik yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintah,” terangnya.
Peneliti Indikator Politik Indonesia (IPI), Bawono Kumoro berpendapat, sebaiknya memang reshuffle segera dilaksanakan. Mengingat di internal koalisi, hubungan PDIP-NasDem sudah tidak harmonis lagi. Hal ini demi menjaga jalannya roda pemerintahan di akhir masa jabatan Jokowi.
“Memang tidak dapat dimungkiri, PDI Perjuangan sangat tidak suka sekali dengan sikap Partai NasDem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden,” lanjutnya.
Soal apakah Jokowi akan mengambil pertimbangan politik dalam menggeser menteri-menteri dari NasDem, menurutnya, bukanlah sesuatu yang diharamkan. “Karena reshuffle kabinet selama ini tentu mengandung dua pertimbangan. Yaitu pertimbangan kinerja dan pertimbangan politik,” pungkasnya.