jaringberita.com -Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2022 masih menyisakan catatan minor. Terutama, soal kesejahteraan guru. Masih banyak guru honorer di daerah pelosok yang digaji tidak layak.
Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengatakan, kesejahteraan guru, khususnya honorer, masih jauh panggang dari api. Padahal, negara berutang besar kepada guru honorer, yang berjumlah lebih dari 1 juta orang.
“Mereka masih digaji jauh di bawah UMP/UMK daerah. Rata-rata Rp 500 ribu–Rp 1 juta per bulan. Padahal, guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial,” ungkapnya.
Salim mengatakan, hal tersebut akhirnya membuat banyak guru terjebak pinjaman online (pinjol). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, sebanyak 42 persen masyarakat yang terjerat pinjol ilegal adalah guru, artinya guru paling banyak terjebak pinjol. “Ini adalah fakta yang sangat menyedihkan,” ujarnya.
Selain soal kesejahteraan guru, P2G juga menyoroti kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melakukan digitalisasi pendidikan, khususnya melalui kanalisasi tunggal Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kebijakan itu dinilai kontraproduktif dengan semangat Merdeka Mengajar.