Demokrat Bosan Oposisi


Demokrat Bosan Oposisi
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Andi Arief.

Ia berharap, kontestasi pilpres pada 14 Februari 2024 mendatang bisa menjadi momentum Partai Demokrat kembali berkuasa usai satu dekade menjadi oposisi. "Mohon doa dan dukungan rakyat atas perjuangan Partai Demokrat yang selanjutnya. Tanggal 14 Februari 2024, Partai Demokrat dengan nomor urut 14 akan kembali duduk dalam pemerintahan setelah 10 tahun berkuasa dan 10 tahun menjadi oposisi," pintanya.

Apakah target berkuasa kembali itu realistis bagi Demokrat? Jika menengok elektabilitas partai Demokrat di beberapa survei terakhir, trennya memang menunjukkan peningkatan. Seperti dirilis oleh Charta Politika misalnya. Demokrat terus merangsek naik ke posisi 5 besar dengan elektabilitas 7,7 persen. Atau naik tipis sekitar 0,4 persen dibanding bulan November lalu, yang finish dengan elektabilitas 7,3 persen.

Namun, elektabilitas Demokrat yang satu digit tentu masih tertinggal jauh dengan rivalnya yang lain, seperti PDIP. Sang juara bertahan di bawah komando Megawati Soekarnoputri itu, masih cukup digdaya bertahan di posisi pertama, dengan elektabilitas 23,5 persen.

Selain partai, figur dari partai yang bakal dijagokan di Pilpres 2024 mendatang juga menjadi indikator mampu atau tidak Demokrat kembali berkuasa. Seperti diketahui, AHY adalah sosok figur sentral yang dijagokan Demokrat saat ini. Namun, namanya tidak ada dalam pertarungan 3 besar elektabilitas tertinggi calon presiden.

Sebab, hampir di semua lembaga survei posisi 3 besar masih dihuni oleh Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Lalu bagaimana peluang AHY di posisi calon RI 2? Dalam perebutan posisi Cawapres, nama AHY cukup diperhitungkan. Temuan Charta Politika teranyar, elektabilitas putra sulung presiden RI keenam itu, keluar sebagai runner-up elektabilitas cawapres tertinggi.

AHY membukukan elektabilitas 10,3 persen. Sementara di urutan pertama dipegang oleh Sandiaga Uno dengan torehan 17,6 persen. Posisi AHY sebagai runner-up, masih rawan dibayang-bayangi oleh Erick Thohir yang hanya terpaut tipis dengan membukukan elektabilitas 8,4 persen dan Khofifah Indar Parawansa 6,1 persen.

Apa kata peneliti soal mimpi Demokrat itu? Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro menilai Demokrat harus berhitung dengan cermat agar puasa selama 10 tahun ini segera bisa disudahi. Sebab, posisi Demokrat baik dari sisi partai maupun figurnya tidak sedang di atas angin. Sehingga dengan keterbatasan itu, perlu strategi jitu agar target kembali berkuasa tidak meleset.

"Partai Demokrat besar kemungkinan tidak akan beranjak dari Koalisi Perubahan bersama Partai NasDem dan PKS. Meskipun andai nanti AHY tidak dipilih sebagai cawapres Anies," prediksi Bawono.

Ia meyakini, Partai Demokrat dan PKS tidak akan lari dari rencana koalisi meskipun nanti kader mereka tidak menjadi cawapres Anies Baswedan. Bagi Partai Demokrat dan PKS, berada dalam koalisi perubahan merupakan kesempatan terbesar bagi kedua partai politik tersebut untuk nanti masuk di dalam pemerintahan sebagai bagian dari partai berkuasa.

Sementara jika beralih ke koalisi lain, seperti Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Indonesia Raya (KIR), posisi Demokrat hanya akan menjadi anak bawang. "Karena kedua koalisi tersebut telah terbentuk tanpa keterlibatan Partai Demokrat," pungkasnya.

Editor
: jrb

Tag: