Lantas apa imbas keretakan ini bagi NasDem? Kata Agung, secara institusional, kemungkinan menteri-menteri NasDem akan kena reshuffle. Apalagi saat masa pra-kampanye hingga kampanye berlangsung. Kritik dan saran akan dilancarkan bertubi-tubi kepada pemerintah sebagai konsekuensi logis narasi perubahan yang dibawa Anies. “Tidak mungkin melempar narasi kritis jika masih ada di dalam,” ucapnya.
Kedua, Poros Perubahan Indonesia yang diinisiasi NasDem bersama PKS dan Partai Demokrat bakal semakin menguat. Namun, ada pula kemungkinan lobi tingkat tinggi membubarkan koalisi ini.
“Sehingga jumlah pasangan capres-cawapres masih dinamis. Apalagi muncul tsunami politik atau keadaan luar biasa yang mengubah konstelasi baik di partai maupun capres-cawapresnya,” katanya.
Sebelumnya, Paloh tetap menganggap Jokowi sebagai sahabat. Dia tak mempersoalkan Jokowi tak memberi ucapan selamat. Paloh memaklumi kesibukan presiden yang sedang berada di Phnom Penh, Kamboja menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ASEAN.
“Mudah-mudahan akan ada waktu berikan ucapan. Presiden Jokowi adalah presidennya Partai NasDem. Presiden Jokowi secara personal adalah seorang sahabat. Yang menerima segala kekurangan dan kelebihan sahabat,” kata Paloh dalam HUT ke-11 NasDem.
Paloh menegaskan, NasDem sampai hari ini masih berada di dalam koalisi pemerintahan dan tetap akan mendukung penuh kebijakan Jokowi sampai akhir masa jabatan.
Menurut Paloh, seperti dilansir dari laman RM.id, penilaian Jokowi yang tidak suka kepada NasDem, itu adalah upaya yang dilakukan secara sistemik dan sengaja untuk merusak hubungandua sahabat tersebut.
“Lain halnya kalau memang sungguh-sungguh sahabatnya NasDem Presiden Jokowi yang menyatakan selamat tinggal NasDem, saya tidak butuh Anda. Tapi itu bukan, bukan, bukan keinginan dan harapan kita. Itu kemenangan mereka yang tak ingin stabilitas nasional,” tambahnya.