Awas Jual Beli Nomor Urut


Awas Jual Beli Nomor Urut

jaringberita.com -MPR dan KPU tengah menggodok opsi pemilihan legislatif atau pileg proporsional tertutup. Nantinya, pemilih hanya akan mencoblos parpol. Dan parpol yang akan memilihkan anggota DPR-nya.

Ketua Badan Pengkajian Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Djarot Syaiful Hidayat mengatakan, pileg den­gan sistem proporsional terbuka seperti saat ini menelan biaya politik yang mahal. Selain itu, rawan tindakan korupsi yang dilakukan anggota dewan.

“Pemilu di Indonesia itu sangat mahal, biaya dari anggaran negara itu mungkin dari Rp 100 triliun untuk KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu). Sekarang coba kita hitung biaya yang dikeluarkan oleh kandi­dat, itu pasti lebih dari itu,” ujar Djarot.

Karena itu, pihaknya menyambut baik usulan Ketua KPU Hasyim Asy’ari terkait pileg proporsional tertutup. “Bagus sekali Pak Hasyim Asy’ari menyampaikan kita harus berani balik ke sistem pemilu yang proporsional murni atau tertutup,” ungkapnya.

Diketahui, dalam sistem proporsional tertutup, pemilih hanya mencoblos partai politik (parpol). Kemudian, partai politik akan menentukan siapa anggota legislatif yang bakal duduk di parlemen.

Sementara, dalam sistem proporsional terbuka, pemilih dapat mencoblos partai politik atau nama calon anggota legislatif yang diharapkan duduk di parlemen. Sistem proporsional tertutup dinilai bakal menciptakan persaingan yang lebih adil kepada para calon anggota legislatif.

“Tidak ada lagi pertarungan antar calon, mereka-mereka yang sekarang mengurusi partai luar biasa, berkorban luar biasa, kemudian pada saat pencalonan itu kalah sama orang baru yang membawa duit karena amplopnya lebih tebal, ini tidak fair,” ujar politikus PDI Perjuangan.

Di sisi lain, Djarot juga mengatakan bahwa kerja KPU akan lebih efisien dengan sistem proporsional tertutup. “Untuk mencetak kartu suara, formatnya lebih mudah bagi KPU (karena tanpa nama calon),” kata Djarot.


Tag: