Mayoritas Turis Cari Destinasi Wisata Lewat Internet


Mayoritas Turis Cari  Destinasi Wisata Lewat Internet

Menurut dia, konten yang dibuat sebagai materi promosi atau pemasaran sebaiknya tidak melanggar kesusilaan. Hindari pencemaran nama baik atau penghinaan dalam memasarkan destinasi pariwisata. Selain itu, pemasaran juga tidak boleh memasukkan unsur berita bohon (hoaks) atau penyebaran kebencian.

“Konten yang bermanfaat bisa menjadi inspirasi bagi calon wisatawan untuk mengunjungi destinasi tertentu. Oleh karena itu, pemasaran pariwisata secara digital harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan serta sesuai etika yang berlaku,” ujar Hasrul.

Rektor Institute Nitro Makassar M Hatta Alwi Hamu menambahkan, pengembangan pariwisata butuh peran pemuda.

Menurut dia, mengutip sebuah hasil survei, generasi milenial lebih memilih membelanjakan uangnya untuk mendapat pengalaman ketimbang membeli barang.

Hal ini bisa menjadi peluang baru untuk membuat destinasi wisata yang sesuai dengan keinginan pasar, khususnya dari kalangan generasi milenial. Generasi milenial bahkan generasi Z dapat melakukannya dengan membuat konten-konten menarik di media sosial.

"Konten yang dapat mempromosikan destinasi pariwisata yang berkelanjutan, serta bagaimana seorang wisatawan dapat melakukan kegiatan wisata yang bertanggung jawab,” tutur Hatta Alwi.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika diharapkan, seperti dilansir RM.id, dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0


Tag: