jaringberita.com -Dunia merayakan Hari Kebebasan Pers pada 3 Mei 2023 kemarin. Banyak dukungan mengalir kepada semua
jurnalis yang berjuang menyampaikan fakta kepada publik. Seperti Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin.
Dalam pesan singkatnya, Dubes Hamianin menyampaikam kalau di tengah gempuran berita palsu dan disinformasi, kami salut kepada semua jurnalis dan pekerja media yang bekerja untuk membela hak publik atas berita dan informasi yang akurat.
“Terima kasih atas dukungan yang kuat, teman tersayang. Tuhan memberkati kalian semua!”katanya dilansir rm.id, Kamis 4 Mei 2023.
Pada 2023, Hari Kebebasan Pers Internasional mengusung tema “Shaping a Future of Rights: Freedom of expression as a driver for all other human rights” yang berarti “Membentuk Masa Depan Hak: Kebebasan berekspresi sebagai pendorong untuk semua hak asasi manusia lainnya”.
Dalam pesannya, Dubes Hamianin mengatakan, tema tersebut mengingatkan semua pihak untuk menjadi pelindung bagi hak semua individu mendapatkan informasi yang benar.
“Sebagai pelindung demokrasi, hari ini mengingatkan kita untuk terus melawan informasi palsu dan berita yang bias,” tegasnya.
Hari Kebebasan Pers Sedunia bertujuan untuk merayakan prinsip kebebasan pers. Selain itu, hari tersebut juga menjadi momen untuk mengevaluasi kebebasan pers.
Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia 2023, badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) akan memberikan Penghargaan Kebebasan Pers Dunia UNESCO/Guillermo Cano. Penghargaan tersebut adalah bentuk pengakuan dan penghormatan atas kontribusi jurnalis, yang mempertaruhkan nyawa demi memberikan informasi penting kepada publik.
Sejarah Hari Pers Sedunia
Cikal bakal Hari Pers Sedunia adalah adanya banding yang dilakukan sekelompok jurnalis Afrika saat Konferensi UNESCO di Windhoek, Namibia. Dokumen banding yang kemudian dikenal dengan nama “Deklarasi Windhoek”.
Aksi banding itu menyusul maraknya penyerangan terhadap jurnalis dalam Perang Saudara Afrika di abad ke-20. Ketika para jurnalis mengulik informasi, fakta, dan data untuk mengungkap kebenaran. Bukannya berhasil mengumpulkan informasi, mereka jus?tru mendapat ancaman hingga dibunuh.
Kengerian itulah yang membuat para jurnalis Afrika memutuskan mengambil tindakan berupa pengajuan banding ke Konferensi UNESCO yang digelar di Namibia, Windhoek. Akhirnya, UNESCO menanggapi seruan jurnalis tersebut. Kemudian, disahkanlah Dekalarasi Windhoek tersebut dan menetapkan Hari Kebebasan Pers Sedunia setiap 3 Mei.
Perayaan Hari Pers Sedunia pertama kali berlangsung pada 1993, dua tahun setelah sekolompok wartawan tersebut mengajukan banding di Konferensi UNESCO Windhoek