jaringberita.com - Sebuah perusahaan di Amerika Serikat (AS) mengaku ingin membangkitkan dua hewan yang telah punah dari muka bumi. Keduanya adalah burung dodo dan mammoth berbulu.
Melansir VOA Indonesia, Colossal Biosciences pertama kali mengumumkan rencana ambisius untuk menghidupkan kembali mammoth berbulu dua tahun yang lalu. Pada hari Selasa (31/1/2023), perusahaan itu juga mengatakan ingin membangkitkan burung dodo.
“Burung dodo adalah simbol kepunahan yang disebabkan oleh ulah manusia,” kata Ben Lamm, pengusaha sekaligus CEO Colossal.
Perusahaan itu bahakan telah membentuk divisi khusus untuk berfokus mengembangkan teknologi genetik yang berhubungan dengan burung. Seperti diketahui, burung dodo terakhir seukuran kalkun yang tidak bisa terbang dibunuh pada tahun 1681 di pulau Mauritius di Samudera Hindia.
Perusahaan asal Dallas yang didirikan tahun 2021 itu juga mengumumkan di hari yang sama bahwa pihaknya telah mengumpulkan dana tambahan sebesar $150 juta (sekitar Rp2,2 triliun).
Hingga berita ini diturunkan, perusahaan itu sudah mengumpulkan dana senilai $225 juta (sekitar Rp3,3 triliun) dari beragam investor, termasuk United States Innovative Technology Fund, Breyer Capital and In-Q-Tel, perusahaan modal ventura CIA yang berinvestasi dalam bidang teknologi.
Lamm mengatakan, prospek menghidupkan kembali spesies burung dodo tidak diharapkan menghasilkan uang secara langsung. Namun menurutnya, peralatan dan perlengkapan genetik yang perusahaan itu coba kembangkan mungkin membawa manfaat lain, termasuk bagi perawatan kesehatan manusia.
"Misalnya, Colossal kini sedang menguji peralatan untuk merekayasa beberapa bagian genom secara bersamaan. Perusahaan itu juga sedang mengembangkan teknologi yang kadang disebut sebagai rahim buatan,” ungkapnya.
Spesies terdekat dodo yang masih hidup adalah merpati Nicobar, kata Beth Shapiro, ahli biologi molekuler di dewan penasihat ilmiah Colossal, yang telah mempelajari dodo selama dua dekade. Shapiro dipekerjakan oleh Howard Hughes Medical Institute, yang juga mendukung Departemen Kesehatan dan Sains Associated Press.