Perang Sudan WNI Hengkang, Peluru Lewat Di Atas Kepala saat Berjalan Kaki Menuju KBRI


Perang Sudan WNI Hengkang, Peluru Lewat   Di Atas Kepala saat Berjalan Kaki Menuju KBRI
rm
Para WNI dievakuasi tiba di Bandara Soekarno Hatta

jaringberita.com -Pengalaman mengerikan bagi Warga Negara Indonesia (WNI), yang berada di Sudan. WNI terpaksa hengkang akibat perang berkecamuk di sana.

Kini sebagian WNI sudah tiba di tanah air. Mereka diterbangkan dari Jeddah, Arab Saudi menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 991. Total WNI ada sekitar 385, yang sudah dievakusi pada tahap pertama.

Para WNI ini tiba di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) sekitar pukul 06.00 Wib. Kedatangan mereka langsung disambut suka cita oleh keluarga dan pemerintah indonesia.

Para WNI langsung itu langsung diarahkan memasuki bus untuk menuju Terminal 3 Bandara Soetta.

Dilansir rm.id, ada sekitar 385 WNI yang mendarat di Tanah Air. Mereka terdiri dari 248 perempuan dan 137 laki-laki. Dan, 43 di antara mereka anak-anak.

Mereka merupakan WNI kloter pertama WNI yang dievakuasi dari Sudan melalui Jeddah. Proses evakuasi selanjutnya akan dilakukan pada 29 dan 30 April 2023 menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara.

Pasca tiba di Tanah Air, WNI yang dievakuasi dari Sudan tidak langsung dipulangkan ke tempat asalnya masing-masing. Mereka ditampung sementara di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Mereka diangkut menggunakan bus TransJakarta.

Pemerintah sudah menyiapkan fasilitas untuk menyambut kedatangan mereka. Pemerintah menyediakan tiga gedung sebagai tempat penampungan. Yaitu Gedung A, B, dan C.

Di depan gedung tersebut terdapat wahana permainan seperti trampolin dan perosotan sebagai bentuk trauma healing untuk anak-anak. Ada juga stand makanan dan minuman gratis yang disediakan Rumah Zakat dan dapur keliling Dompet Dhuafa.

Seorang WNI asal Madiun, Jawa Timur ini cerita bagaimana mencekamnya kondisi Sudan di tengah konflik.

Sejak tahun 1998 mengais rejeki di Sudan, baru kali ini benar-benar ketakutan. Sebab, kontrakannya di Arkaweet sempat terkena ledakan bom. Beruntung, dia tidak mendapat luka serius.

Melihat kondisi yang makin membahayakan keselamatannya, langsung meminta izin kepada majikannya yang lebih dulu mengungsi ke Mesir, untuk pulang ke Indonesia.

Bersama anak dan satu orang temannya, ia lebih dulu mencari perlindungan ke KBRI yang ada di Kota Khartoum. Tapi, tidak ada kendaraan yang beroperasi. Ia pun memutuskan jalan kaki meskipun dihujani peluru.

Sepanjang jalan, ia rela jadi tameng bagi anaknya. Dia sibuk merangkul dan menutup mata sang anak, karena di tengah jalan banyak mayat tergeletak. Selain khawatir kena peluru nyasar, dia juga takut anaknya mengalami trauma mendalam.

Setelah sampai di KBRI, Supartin menginap satu malam sambil menunggu WNI lain untuk diterbangkan ke Indonesia. Keesokan harinya, mereka baru diantar menggunakan bus ke Bandara Internasional Port Sudan Baru.

Di tengah jalan, rupanya nasib sial belum meninggalkan rombongan. Bus yang ditampanginya mengalami kecelakaan. Akibatnya, ada tiga orang WNI yang mengalami patah tulang. Mereka akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat dan gagal kembali ke Indonesia.

Alhasil, rombongan yang selamat dioper ke bus baru. Mereka langsung dibawa menuju bandara. Sayangnya, pesawat TNI yang menjemput tidak cukup untuk menampung semua penjuang devisa. Mereka akhirmya dibagi dalam dua grup.

Ada yang langsung ke Jeddah naik pesawat, ada juga yang via jalur laut. Setelah itu, baru mereka diterbangkan ke Indonesia menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Ia mengaku kapok.

Penulis
: jrb
Editor
: Dedi

Tag: