Pada Juli 2005, para astronom menemukan benda jauh Eris, yang pada awalnya dianggap lebih besar dari Pluto. Orbitnya juga miring terhadap ekliptika.
Dengan segala temuan itu, para peneliti pun bertanya-tanya: jika Pluto itu planet, apakah berarti Eris juga termasuk? Bagaimana dengan semua objek es lainnya di sabuk Kuiper, atau objek yang lebih kecil di sabuk asteroid? Di mana batas benda langit bisa disebut sebagai planet?
Perdebatan sengit menyusul, dengan banyak proposal baru untuk definisi planet yang ditawarkan.
"Setiap kali kita mengira beberapa dari kita sudah mencapai konsensus, seseorang mengatakan sesuatu dan menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kita tidak mencapainya," kata Brian Marsden, anggota Komite Eksekutif IAU yang bertanggung jawab untuk menemukan arti baru dari planet, pada 2005.
Pada 2006, dalam delapan hari pertemuan Majelis Umum IAU di Praha para astronom tidak mencapai kesepakatan terkait empat proposal. Salah satunya membuat jumlah total planet di Tata Surya menjadi 12, termasuk Ceres, asteroid terbesar, dan bulan Pluto, Charon.
Astronom Mike Brown dari Caltech, penemu Eris, menyatakan saran itu "benar-benar berantakan".
Menjelang akhir konferensi Praha, 424 astronom yang tersisa memilih untuk membuat tiga kategori baru untuk objek di Tata Surya. Sejak itu, hanya Merkurius hingga Neptunus yang akan dianggap sebagai planet.
Pluto dan kerabatnya, benda bulat yang berbagi lingkungan orbit dengan entitas lain, selanjutnya disebut sebagai planet kerdil. Semua objek lain yang mengorbit matahari akan dikenal sebagai badan tata surya kecil.
Saat itu kurang dari 5 persen dari total 10.000 astronom dunia yang berpartisipasi dalam pemungutan suara.
"Saya malu dengan [dunia] astronomi," kata Alan Stern, pemimpin misi New Horizons NASA, yang terbang melewati Pluto pada 2015.
Misi New Horizons adalah titik balik yang signifikan dalam debat soal planet ini. Usai melewati Pluto, ia menunjukkan dunia yang jauh lebih dinamis daripada yang dibayangkan siapa pun.
Pegunungan besar, kawah yang rusak, dan tanda-tanda cairan yang mengalir di permukaannya, semuanya menunjukkan dunia yang mengalami perubahan geologis besar-besaran sejak awal pembentukannya.
Atas dasar ini saja, orang-orang seperti Stern mengatakan Pluto harus dianggap sebagai planet karena merupakan tempat yang dinamis, tempat yang tidak terlalu statis sehingga hanya mikrometeorit yang mengganggu permukaannya.