jaringberita.com - Mata uang
Rupiah terus melanjutkan tren penguatan, seiring dengan terpuruknya kinerja US
Dolar yang terjadi belakangan. Bahkan, indeks US
Dolar dalam satu bulan terakhir mengalami penurunan sekitar 2,4%.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) saat ini USD Index berada dikisaran 102.09, padahal sekitar sebulan yang lalu sempat menyentuh level 105.
"Penurunan kinerja USD Index yang juga terlihat dari penurunan kinerja mata uang US Dolar terhadap Rupiah," ungkapnya, Rabu (12/4/2023).
Lebih lanjut, Gunawan menjelaskan, belakangan pelemahan US Dolar dipicu oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan bunga acuan The FED atau Bank Sentral AS, serta krisis perbankan di AS sebelumnya. Rupiah sendiri pada hari ini diperdagangkan di kisaran level 14.875 per US Dolar.
"Dalam 5 hari perdagangan terakhir rupiah masih menunjukan penguatan, seiring dengan membaiknya data cadangan devisa di posisi $145.2 Milyar," jelasnya.
Disisi lain, sambungnya, penguatan mata uang Rupiah justru menjadi katalis negatif bagi pembentukan harga emas dalam satuan mata uang rupiah.
"Harga emas dunia yang sempat melemah hingga ke level $1.988 per ons troy pada hari senin kemarin, saat ini kembali naik dan ditransaksikan di kisaran level $2.010 per ons troy nya," jelasnya.
Dia menyebutkan kenaikan harga emas juga didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan Bank Sentral AS, yang diyakini akan menaikkan bunga acuan hanya satu kali lagi pada bulan mei mendatang.
Dengan mengacu kepada kinerja mata uang rupiah dan harga emas saat ini, sambungnya, maka emas ditransaksikan dikisaran 964 ribu per gramnya atau turun jika dibandingkan dengan kinerjanya sepekan yang lalu, di mana kala itu ditransaksikan dikisaran 973 ribu per gramnya.
"Padahal harga emas dunia di hari yang sama pekan lalu dikisaran $2.022 per ons troy atau hanya mengalami penurunan sebesar 0.6% saja," ujarnya.
Tetapi, lanjut Gunawan, justru dikarenakan penguatan rupiah, harga emas dalam rupiah pada hari ini turun sekitar 0.9%. Secara keseluruhan tekanan pada harga emas yang terjadi selama pekan ini tidak berlangsung lama.
"Karena secara fundamental harga emas masih dalam tren naik dalam jangka pendek," katanya.
Sementara itu, IHSG yang sempat melemah hingga ke level 6.741 pada awal pekan ini, pada hari ini ditutup di level 6.798,96. Walau demikian IHSG pada hari ini ditutup lebih rendah 0.18% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Kinerja IHSG masih terombang ambing menjelang rilis data inflasi di AS.
"Pasar saham masih menanti bagaimana arah kebijakan Bank Sentral AS nantinya," imbuhnya.
Gunawan menambahkan, pelaku pasar juga saat ini masih menunggu rilis data inflasi AS yang akan menjadi fokus pasar selanjutnya. Begitu juga mata uang rupiah juga demikian, menanti sikap Bank Sentral AS dalam minutes yang akan disampaikan di akhir pekan.
"Volatilitas pada bursa saham, mata uang maupun emas di akhir pekan ini akan sangat bergantung dari data inflasi maupun testimoni yang akan disampaikan oleh The FED," pungkasnya.