Pengusaha Masih Suka Simpan Duit Di Negara Lain, BI Rate Harus Naik Selamatkan Rupiah


Pengusaha Masih Suka Simpan Duit Di Negara Lain, BI Rate Harus Naik Selamatkan Rupiah
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin

Menaikkan bunga acuan berarti memperkecil perbedaan bunga acuan antara BI dengan Bank Sentral AS atau The FED yang saat ini bertengger di angka 4%.

Yang tentunya kenaikan bunga acuan tersebut akan lebih banyak memberikan manfaat bagi dana dalam valas dan menghindarkan kita dari tekanan capital outflow.

Hanya saja lantas apa gunanya fundamental ekonomi yang bagus, namun rupiah yang justru tertekan saat ini, hingga harus direspon dengan kenaikan suku bunga acuan?.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5.7% pada kuartal ketiga seakan tidak mampu meredam animo pelaku pasar untuk lebih memilih memegang rupiah ketimbang US Dolar. Padahal dibanyak Negara lain termasuk AS ekonominya saat ini lebih buruk dibandingkan Indonesia.

Dari sekian banyak alasan yang mencuat, saya lebih menarik menguliti surplus neraca perdagangan yang seakan tidak mampu menahan pelemahan rupiah.

Sejatinya disaat terjadi surplus terjadi ada pasokan US Dolar yang siap membuat cadangan devisa kian gemuk. Yang bisa digunakan untuk meredam gejolak rupiah.

Tetapi pengusaha (eksportir) kita atau pemilik US Dolar dalam angka besar belum sepenuhnya mau mengkonversi, atau setidaknya tetap menyimpan valasnya di tanah air. Masih berhitung untung rugi bila menyimpan US Dolar disini.

Padahal bisnisnya ada di tanah air, US Dolar nya didapat dari berbisnis disini. Saat ini nasionalisme dibutuhkan dan harus dibuktikan untuk menjaga agar ekonomi RI bisa tetap berputar ditengah ancaman resesi global.

Berurusan dengan buruknya ekonomi global belakangan ini, dibutuhkan keberpihakan kepada tanah air dibandingkan dengan hitungan bisnis semata.

Sehingga pelemahan rupiah bisa diredam, dan suku bunga acuan bisa tetap rendah yang nantinya akan bermuara pada akselerasi ekonomi yang lebih baik.

Penulis
: Dedi

Tag: