Hotel BUMN Bakal Makin Efisien Dan Berdaya Saing

Bernaung Di Bawah InJourney

Hotel BUMN Bakal Makin Efisien Dan Berdaya Saing
Menteri BUMN Erick Thohir.

jaringberita.com -Pemerintah mengebut penggabungan 103 hotel BUMN di bawah nauangan Holding BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney. Langkah ini diyakini bakal membuat perusahaan pelat merah sektor pariwisata tersebut semakin efisien dan berdaya saing.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran meyakini, penyatuan hotel-hotel milik BUMN dapat mendorong terjadinya peningkatan kinerja dan volume bisnis perusahaan-perusahaan di bawah naungan BUMN.

“Tak hanya itu, efisiensi juga bisa terjadi dalam pengelolaannya. Lalu, persaingan (kami) di swasta juga menjadi semakin efektif. Karena sebelumnya, BUMN yang bermain di sektor tersebut sudah terlalu banyak,” ujar Maulana.

Ia menuturkan, saat ini industri pariwisata tengah mengalami perbaikan pasca Covid-19. Sehingga dia berharap, berjalannya Holding Hotel dan Pariwisata BUMN, bisa memperluas peluang di kedua sektor tersebut.

Terpisah, Anggota Komisi VI DPR Rudi Hartono Bangun menilai, langkah penyatuan hotel akan berdampak positif terhadap kinerja BUMN.

Menurut Rudi, BUMN sudah seharusnya bisa menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan menjadi trigger bagi kebangkitan ekonomi masyarakat.

“Bisa dikatakan Holding BUMN yang dibentuk saat kepemimpinan Erick menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kita,” kata Rudi.

Dengan kehadiran Holding BUMN, politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini melihat ada efisiensi dan peningkatan kinerja BUMN secara signifikan.

Apalagi peningkatan laba BUMN secara berkelanjutan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan pembentukan Holding oleh Kementerian BUMN, on the track.

“Holding BUMN menjadi solusi jangka panjang. Karena dengan digabungkan, birokrasi berbelit yang selama ini terjadi bisa hilang. Dan membuat laba atau deviden lebih sehat,” katanya.

Hal ini berdasarkan data dari Kementerian BUMN pada 2020, yang menyebutkan, BUMN menghasilkan laba sebesar Rp 13 triliun. Jumlah tersebut meningkat signifikan menjadi Rp 124,5 triliun pada 2021. Sementara tahun ini ditargetkan sebesar Rp 144 triliun.

Rudi berharap, Holding-holding BUMN ke depan dapat terus melakukan program-program yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Sebab, imbuh Rudi, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dicapai melalui fokus pada driver pertumbuhan domestik.

“Termasuk mendorong UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) bangkit dan terus menciptakan lapangan kerja,” ucapnya.

Rudi meyakini, transformasi BUMN yang salah satunya lewat pembentukan holding, dapat meningkatkan akuntabilitas perusahaan, profesionalisme, meminimalisir intervensi politik, peningkatan kinerja dan produktivitas.

“Serta daya saing perusahaan, baik dalam pasar domestik maupun internasional,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan, pihaknya tengah mengkonsolidasikan 103 hotel milik di BUMN.

“Prosesnya akan dilakukan bertahap. Pertama 23 hotel, naik 40. Itu yang kami mau lakukan supaya kita mandiri,” katanya.

Erick mengatakan, ratusan hotel BUMN akan tergabung di bawah holding BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero). Setelah digabungkan, rencananya hotel-hotel tersebut juga akan direnovasi.

Tetapi, menurutnya, tujuan utamanya bukan itu. Melainkan men-supply seluruh kebutuhan hotel melalui UMKM.

“Seperti shampoo, sabun, handuk. Itu bisa saling menjaga ekosistem,” ucapnya.

Sementara terkait posisi Garuda Indonesia yang belum diizinkan bergabung ke InJourney, Menteri Erick mengatakan, Garuda saat ini masih melakukan langkah kedua penyehatan.

“Kalau sudah sehat, selanjutnya harus besar dahulu, jumlah pesawat bertambah baru bersinergi dengan InJourney,” kata Erick.

InJourney merupakan induk dari Holding BUMN Pariwisata dan Aviasi. Dilansir dari RM.id, holding tersebut terdiri dari PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (Persero), dan PT Sarinah (Persero)


Tag: