Bos OJK Wanti-wanti Ancaman Resesi


Bos OJK Wanti-wanti Ancaman Resesi
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar.

Ia bilang, ke depan, penguatan dolar AS yang diikuti dengan volatilitas harga komoditas berpotensi mempengaruhi kinerja lembaga jasa keuangan, mulai dari portofolio investasi, likuiditas, hingga kredit.

Meski begitu, mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini tetap menyerukan optimisme terhadap kinerja lembaga jasa keuangan Tanah Air. Bahkan kredit di tahun 2023 diproyeksinya bisa tumbuh 1,5 kali dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Melihat hal ini, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, upaya OJK dalam mengimbau perbankan mempertebal modal dan CKPN, merupakan ajakan untuk berjaga-jaga dan mengantisipasi terhadap ancaman global terkait resesi.

“Imbauan itu bukan berarti Indonesia mengalami kondisi yang sama dengan global. Tetapi penting untuk berjaga-jaga, mengantisipasi adalah hal yang memang selayaknya dilakukan regulator,” ucap Piter kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Piter menegaskan, apa yang diserukan Bos OJK tersebut bukan bermaksud menakut-nakuti. Karena ia sangat meyakini, kondisi perbankan sejauh ini masih sehat dan stabil. “Tapi sekali lagi bukan berarti kita boleh lengah. Karena sektor keuangan bisa berubah sewaktu-waktu,” ingatnya.

Meski secara keseluruhan kinerja perbankan baik, diakuinya untuk kondisi likuiditas valas memang sedang tertekan. Salah satu penyebabnya, karena faktor hasil ekspor tidak ada yang ditempatkan atau ditukarkan ke dalam rupiah yang masuk ke Indonesia.

Piter membeberkan, hampir semua ekspor yang memenuhi DHE (Devisa Hasil Ekspor) diparkir sebentar di Tanah Air lalu ditarik untuk ditempatkan ke luar negeri. Ini karena iming-iming return luar negeri yang jauh lebih tinggi, serta risiko yang dianggap lebih rendah. Sehingga mereka lebih nyaman untuk menempatkannya di luar negeri.

“Itu mengapa DPK valas tertekan, meskipun kredit kita naik,” sebutnya.


Tag: