Bisnis Palm Co Kian Jumbo


Bisnis Palm Co Kian Jumbo

jaringberita.com -Palm Co menjadi salah satu anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang siap menggelarInitial Public Offering(IPO) tahun 2023. Ini menjadi peluang besar perusahaan untuk menggenjot kapasitas bisnisnya.

Pengamat BUMN dari Uni­versitas Indonesia (UI) Toto Pranoto berpendapat, lewat IPO, Palm Co akan mendapatkan dana segar dari investor.

“Dengan menjadi perusahaan terbuka, Palm Co memiliki ha­rapan tumbuh menjadi entitas bisnis BUMN yang lebih besar di masa mendatang,” kata Toto ke­pada dilansir rm.id

Toto mengatakan, setidaknya ada tiga manfaat yang bisa dinikmati Palm Co dari melepas saham perdana.

Pertama, mendapatkan dana segar dari IPO yang dibutuhkan untuk ekspansi bisnis. Kedua, setelah menjadi perusahaan terbuka, kualitas tata kelola perusahaan akan semakin baik. Karena ada standar transparansi dan pengawasan dari pemegang saham maupun dari regulator secara berkala.

Selain itu, Palm Co tidak akan mudah diintervensi pihak mana­pun yang dapat mengganggu dan membebani kinerja keuangan perusahaan

Menjadi perusahaan terbuka berarti akan meningkatkan kualitasgovernanceperusahaan. Sehingga intervensi dari pihak manapun bisa lebih diminimalisir,” tuturnya.

Ketiga, sebagai perusahaan terbuka, kinerja Palm Co akan terus dituntut tetap prima agar tidak ditinggalkan investor.

Kegiatan perusahaan dilaku­kan secara terbuka dengan melaporkan aksi korporasi dan laporan keuangan kepada publik secara berkala.

Performanceyang prima, akan terus dilirik investor,” te­gasnya.

Menurut Toto, Palm Co yang merupakan hasil konsolidasi dari unit bisnis sawit di anak usahaPTPN Group, akan bekerja lebih lincah karena bisa mandiri. Mulai dari perencanaan bisnis hingga pelaksanaannya.

“Pembentukan Palm Co adalah upaya percepatan langkah subholding PTPN menjadi peru­sahaan yang lebihagile. Dengan kemandirian yang dimiliki, ban­yakcorporate actionyang bisa dilakukan dengan lebih cepat dan dinamis.

Meski begitu, rencanaIPO Palm Cojuga memiliki tantangan. Karena perusahaan hanya memegang sekitar 10 persen total lahan sawit nasional.

Namun, dana IPO dibutuhkan untuk melakukan penanaman kembali lahan yang sudah tidak produktif.

Selain itu, hasil IPO dapat digunakan untuk bisnis hilirisasi. Salah satu program hilirisasi Palm Co adalah mengembang­kan Energi Terbarukan (ET) dari minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), sejalan dengan arah kebijakan energi dan pembangunan berkelanjutan Pemerintah.

“Sehingga perlu performa ba­gus, setelah jadi Tbk. Supaya di­anggap semenarik emiten sawit lain. Seperti Grup Salim, Sinar­mas atau Wimar,” imbaunya.

Menteri BUMN Erick Thohir mengamini, pihaknya tengah menyiapkan sejumlah aksi korporasi tahun ini. Antara lain, mengantarkan Pertamina Geo­thermal Energi (PGE) dan Palm Co melantai di bursa.

Aksi korporasi untuk Palm Co, kata Erick, dilakukan untuk mengamankan persediaan min­yak kelapa sawit dalam negeri. Dengan target memiliki pangsa pasokan minyak kelapa sawit hingga 10-15 persen.

“Kami belajar dari kemarin, minyak goreng mahal. Kami operasi pasar ngos-ngosan, karena pangsa pasokan cuma 3 persen. Kalau bisa 10 sampai 15 persen,private sectortetap kami dorong. Kami tidak mau monopoli market. Tapi kalau nanti ada kejadian minyak goreng mahal, BUMN bisa membantu,” jelas Erick.


Penulis
: Jrb-redaksi
Editor
: Jrb-redaksi

Tag: