Elisabeth melanjutkan, pada moment keempat adalah tingginya temuan stunting anak di Kota Medan. Tercatat 550 kasus yang terbanyak tersebar di empat kecamatan, yakni Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Deli.
"Temuan ini paralel dengan hasil survey prevalensi perokok Balitbang Medan tahun 2016 lalu. Oleh karenanya di butuhkan langkah-langkah cepat dan terintegrasi lintas OPD untuk menanganinya sehingga stunting anak dapat dicegah dan diturunkan," terangnya.
Terakhir, sambung Elisabeth, moment diluncurkannya Universal Health Coverage (UHC) oleh Walikota Medan pada 9 Desember lalu. Program ini diharapkan Pemko dapat memberi pelayanan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan kepada seluruh warganya tanpa diskriminasi. Program ini menurutnya patut di dukung, namun harus diimbangi dengan program yang sifatnya kuratif agar penyakit dapat dicegah.
"Pembangunan Kesehatan bukan hanya pada sarana, prasarana dan layanan (seperti UHC) tetapi juga pada program promotive preventif yang bertujuan untuk perubahan mindset (pola pikir) dan perubahan perilaku dari yang tidak atau kurang sehat menjadi lebih sehat," sebutnya.
"Kampanye dan edukasi masyarakat untuk lebih mengutamakan belanja telur dan susu daripada belanja produk tembakau keluarga dapat mencegah terjadinya stunting pada anak, dengan melibatkan multistakeholder," pungkasnya.