Selanjutnya Epza juga memaparkan, saya memahami kondisi ekonomi teman-teman gojek hari ini. Disatu sisi ekonomi memang sulit, pengangguran banyak, BBM naik, pokoknya siap jatuh ditimpa tangga pulak. Belum berhenti sampai disitu, saat ini muncul wacana konfersi Gas subsidi ke Kompor listrik, kita benar-benar sedang diuji saat ini, katanya.
Problem kita saat ini ya begitu, kalau kompor gas beralih ke Kompor listrik saya tak bisa bayangkan sekiranya listrik mati, bisa-bisa rakyat tak masak dan tak makan. Belum lagi harus beli panci baru, pasti masalah lagi sama ibuk-ibuk di rumah, nah ini masalah nuga ini tambah Epza.
Lebih jauh Epza menguraikan, naiknya harga BBM berdampak terhadap harga Sembako seperti halnya beras, gula, garam dan minyak makan naik, yang lain juga ikut naik, telur naik, nah ini ibuk-ibuk yang paling terdampak di dapur. Makanya saya tak setuju BBM naik, kemaren saya tulis itu di opini waspada, saya ceritakan disitu, tidak tepat momen kenaikan harga BBM ini, karena harga minyak dunia lagi turun dan kenaikan itu biasanya seperak dua perak, bukan seperti sekarang, langsung naik Rp2.350 dari Rp7.650 jadi Rp10 ribu.
Namun demikian, dalam hal mencari rezeki, kita harus manjadda wajada", siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menuai hasil. Prinsipnya, siapa yang menanam pasti akan menuai, tanam padi pasti rumbuh rumput, tanam rumput belum tentu tumbuh padi. Sebab itu, harus kita tanam kebaikan dan budi pekerti yang baik biar banyak kawan.
Ayo kita cari kawan sebanyak-banyaknya, saya bukan politisi, tapi seribu kawan terlalu sedikit, sebaliknya satu lawan terlalu banyak.
Terakhir, buat teman-teman gojek kalau ada masalah hukum, tentu kami dengan senang hati akan membantu. Kalau urusan konsultasi masalah hukum sudah pasti gratis, silahkan kalau ada masalah hukum.
"PB PASU juga begitu, sifat gerakannya sosial dan pilantrofi, kami berbasis pada pengabdian. Sebab itu, kalau ada masalah, jangan ragu-ragu kabarin aja, kita siap membantu", tandas Epza mengahiri pidatonya.