Terakhir pada tanggal 11 Maret 2023 dilakukan perawatan intensif terhadap DS dengan kondisi luka baru pada kaki (melempuh), luka lama saat evakuasi pada perut dan punggung telah sembuh dan tumbuh rambut pada bekas lukanya, luka pada kaki mulai mengering.
"Tetapi mulai timbul luka baru pada ekor, siku dan perut, nafsu makan masih ada tetapi harus disuapin oleh keeper, jalan masih bisa tetapi sempoyongan dan terdapat indikasi gula darah yang tinggi (kadar gula darah untuk harimau sekitar 21-109, hasil test gula darah Dewi Siundul 178," kata Elvina.
Ia melanjutkan pada tanggal 15 Maret 2023, kondisi Dewi Siundul sudah bisa makan daging tetapi tidak dapat berjalan, tapi terlihat susah berdiri dan badannya gemetaran.
Selama dalam perawatan, Elvina menuturkan, keeper melakukan penyemprotan iodine, gusanek untuk luka pada kaki dan ekor, dan pengobatan luka punggung. Keeper memberikan makan daging ayam dan minum dengan cara menyulang.
"Mencermati kondisi Dewi Siundul yang kurang baik, pada tanggal 17 Maret 2023 dilaksanakan rapat secara online. Hasil rapat adalah kondisinya semakin menurun dan lemah, makan diberikan dengan cara disuapi dan diberikan bantuan untuk minum," ungkapnya.
Elvina mengatakan para pihak terkait mendukung untuk menyelamatkan Dewi Siundul termasuk di dalamnya berbagi pengalaman penanganan harimau yang sakit.
Akan tetapi, pada tanggal 19 Maret 2023, kondisi Dewi Siundul terlihat masih lemah dan akhirnya pukul 16.25 WIB, Harimau Sumatra itu dinyatakan mati.
"Tindakan selanjutnya yang dilakukan adalah nekropsi dan bangkal DS dikubur di Suaka Satwa (Sanctuary) Harimau Sumatera Barumun," pungkasnya.