Kuasa hukum ke enam
Casis Polwan, Jonen Naibaho mengkritisi sistim penilaian yang dilakukan panitia daerah seleksi penerimaan anggota Polri Polda Sumut.
"Sangat tidak logika, masa nilai 76 keatas dikatakan tidak memenuhi syarat sementara nilai 75 kebawah justru dimenangkan. Kalau demikian sistimnya yang dicari bukan orang pintar tetapi orang bodoh, jelas kita bisa lihat di Google aja bisa dibaca saol untuk Keswa tersebut,
Kemudian, sambung Jonen Naibaho didampingi Rudolf Naibaho, panitia menyuruh para
Casis untuk merubah jawaban dengan alasan nilai terlalu tinggi (benar semua).
"Seandainya para
Casis merubah semua jawaban berarti nilai Keswa menjadi 20, apakah untuk lulus menjadi Polwan harus Keswa nya nilai 20, baru sesuai SOP?sesuai perkataan Panitia harus dibawah 75" tanya Jonen.
Dia menilai dan menduga prosedural yang dilakukan panitia Keswa hanyalah akal-akalan.
Sangat logika jika ke enam
Casis Polwan itu menjawab benar semua pertanyaan yang diajukan pada test Keswa mengingat mereka sudah belajar satu tahun untuk persiapan. Namun kepintaran mereka justru tidak dihargai. Bahkan satu dari enam
Casis yang dikatakan tidak memenuhi syarat merupakan peringkat dua umum.
Anehnya lagi, sambung dia, seorang rekan keenam
Casis yang masih dalam satu Bimbel dinyatakan lulus.
"Ada satu orang satu Bimbel dinyatakan lulus dan kami minta nilai satu orang itu ditunjukan tetapi tidak diperbolehkan karena itu katanya rahasia. Padahal, yang lulus ini sudah memberikan izin kepada kita kalau memang itu dibutuhkan," katanya.
"Adik-adik ini juga tadi minta discan nilainya didepan orang itu langsung tapi tidak diperbolehkan karena harus ada izin Kapolri," sebut Jonen seperti gelis diterima redaksi.
Tags
beritaTerkait
komentar